<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>DATA DAN INFORMASI KESEHATAN</title>
	<atom:link href="http://datinkessulsel.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://datinkessulsel.wordpress.com</link>
	<description>Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 03:25:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='datinkessulsel.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>DATA DAN INFORMASI KESEHATAN</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://datinkessulsel.wordpress.com/osd.xml" title="DATA DAN INFORMASI KESEHATAN" />
	<atom:link rel='hub' href='http://datinkessulsel.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Need Assessment SIKDA Prov. Sulawesi Selatan 2010</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/12/12/need-assessment-sikda-prov-sulawesi-selatan-2010/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/12/12/need-assessment-sikda-prov-sulawesi-selatan-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 11:32:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sistem informasi kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1066</guid>
		<description><![CDATA[Need assesment SIK dilakukan dalam rangka memperoleh gambaran situasi SIK di Sulawesi Selatan. Hasil need assessment tersebut dapat digunakan untuk menyusun rencana induk pengembangan SIKDA ataupun proposal bantuan donator dalam rangka pengembangan SIKDA di Provinsi Sulawesi Selatan. Sehubungan dengan hal tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan oleh tim Kelompok Kerja (Pokja) data dan informasi melakukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1066&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Need assesment SIK dilakukan dalam rangka memperoleh gambaran situasi SIK di Sulawesi Selatan. Hasil need assessment tersebut dapat digunakan untuk menyusun rencana induk pengembangan SIKDA ataupun proposal bantuan donator dalam rangka pengembangan SIKDA di Provinsi Sulawesi Selatan.<br />
Sehubungan dengan hal tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan oleh tim Kelompok Kerja (Pokja) data dan informasi melakukan need assesment SIKDA ke beberapa kabupaten/ kota dalam rangka menginventarisir kondisi pengembangan SIKDA di kabupaten/ kota.   <a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/12/hasil-need-assesment-sik_2010.doc">Klik di sini untuk membaca Hasil Need Assesment SIK_2010</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1066/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1066/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1066/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1066/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1066/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1066/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1066/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1066/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1066/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1066/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1066/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1066/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1066/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1066/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1066&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/12/12/need-assessment-sikda-prov-sulawesi-selatan-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penderita HIV/AIDS di Kota Makassar kini berjumlah 2.711 kasus</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/11/15/penderita-hivaids-di-kota-makassar-kini-berjumlah-2-711-kasus/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/11/15/penderita-hivaids-di-kota-makassar-kini-berjumlah-2-711-kasus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Nov 2010 23:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1063</guid>
		<description><![CDATA[Penularan HIV/AIDS di Makassar mengalami peningkatan tiap tahun. Jumlahnya sudah mencapai 2.711 kasus.  Penularan HIV/AIDS terbesar melalui narkoba suntik sekitar 67 persen dan penyebaran ini sangat rentan di kalangan pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif (Napza). Resiko terbesarnya terutama jika jarum suntik digunakan bergantian oleh pengguna.  Jumlah ini mengalami meningkat lebih 300 kasus sejak Juni [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1063&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Penularan HIV/AIDS di Makassar mengalami  peningkatan tiap tahun. Jumlahnya sudah mencapai 2.711 kasus.  Penularan  HIV/AIDS terbesar melalui narkoba suntik sekitar 67 persen dan  penyebaran ini sangat rentan di kalangan pengguna narkotika,  psikotropika dan zat adiktif (Napza). Resiko terbesarnya terutama jika  jarum suntik digunakan bergantian oleh pengguna.  Jumlah ini mengalami  meningkat lebih 300 kasus sejak Juni 2010 lalu.  Wakil Walikota Makassar  (Drs.Supomo Guntur., M.Si) mengimbau warga supaya tidak perlu malu  untuk memeriksakan diri ke puskesmas terdekat supaya penyakitnya bisa  terdeteksi dan mendapat perawatan.   Kesadaran memeriksakan kesehatan  juga merupakan rangkaian untuk menghindari penularan.  Untuk mengatasi  penularan ini, kita sangat berharap kesadaran penderita untuk  memeriksakan diri ke klinik VCT (Voluntary Clinic Test) yang telah  disiapkan di beberapa rumah sakit.</div>
<div><span id="more-1063"></span>Adapun  rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang menyediakan  layanan VCT, seperti RSU Regional Wahidin, RSU Labuang Baji, RS Polri  Bhayangkara, RS Dadi, Puskemas Ujungpandang Baru dan Puskesmas  Kassi-kassi.<strong><em></em></strong></div>
<div>Target Kota Makassar yaitu semua Puskesmas  dilengkapi klinik VCT.  Pemerintah Kota Makassar menargetkan ada klinik  VCT di puskesmas 14  kecamatan di Makassar. Hal ini dilakukan untuk  mempermudah penderita  yang akan berkonsultasi dan melakukan pemeriksaan  diri.<br />
Data Dinas Kesehatan Kota Makassar jumlah kasus HIV pada 2008   sebanyak 2.056. Pada 2009 menembus angka 2.372 atau mengalami    peningkatan sebanyak 316 kasus dan pada 2010 mencapai angka 2.711 orang.</div>
<p>Pengidap HIV di Makassar yang dideteksi, antara lain :<br />
- 2008: 2.056  orang<br />
- 2009: 2.372 orang<br />
- Oktober 2010: 2.711 orang<br />
(sumber:  Data Dinas Kesehatan Kota Makassar)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1063/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1063/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1063/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1063&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/11/15/penderita-hivaids-di-kota-makassar-kini-berjumlah-2-711-kasus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penguatan Komitmen Pengelola Data Lingkup Dinkes Prov. Sulsel</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/09/02/penguatan-komitmen-pengelola-data-lingkup-dinkes-prov-sulsel/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/09/02/penguatan-komitmen-pengelola-data-lingkup-dinkes-prov-sulsel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 21:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sistem informasi kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1056</guid>
		<description><![CDATA[Makassar 26 Agustus 2010, Subag Program Dinkes Prov. Sulsel melaksanakan pertemuan POKJA Data lingkup Dinkes Prov. Sulsel yang dilaksanakan di Baruga Sayang. Pertemuan tersebut dihadiri 26 peserta dan dibuka secara resmi oleh Kepala Dinkes Prov. Sulsel. Setelah membuka kegiatan secara resmi, beliau membawakan materi pertemuan dengan judul &#8220;Penguatan komitmen pengelola data di Sulsel&#8221;. Berikut beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1056&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Makassar  26 Agustus 2010, Subag Program Dinkes Prov. Sulsel  melaksanakan  pertemuan POKJA Data lingkup Dinkes Prov. Sulsel yang  dilaksanakan di  Baruga Sayang. Pertemuan tersebut dihadiri 26 peserta  dan dibuka secara  resmi oleh Kepala Dinkes Prov. Sulsel. Setelah  membuka kegiatan secara  resmi, beliau membawakan materi pertemuan  dengan judul  &#8220;Penguatan komitmen pengelola data di Sulsel&#8221;. Berikut  beberapa  cuplikan materinya; Kebutuhan informasi untuk pengambilan  keputusan  diberbagai jenjang administrasi di lingkungan dinas kesehatan  menuntut  kemampuan penyediaan informasi yang memiliki akurasi dan  validasi tinggi  baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pusat.  Kualitas  informasi ini di tentukan antara lain oleh kualitas perangkat  keras dan  perangkat lunaknya, serta yang terpenting adalah kualitas  manusia yang  berperan sebagai pengelola dan pengguna informasi  tersebut. <strong><em><br />
</em></strong> <span id="more-1056"></span>Sistem  Informasi Kesehatan Kabupaten/Kota adalah  tulang punggung bagi   pelaksanaan pembangunan di daerah yang berwawasan  kesehatan bagi   kabupaten/kota yang bersangkutan. Oleh karena itu,  sistem ini  diharapkan  dapat menyediakan data dan informasi yang akurat,  tepat  waktu, dan  sesuai kebutuhan, sebagai landasan bagi para  penentu   kebijakan dalam  pengambilan keputusan berdasarkan fakta (evidence   based desicion  making).dr. H. Rachmat  Latief, M.Kes menegaskan bahwa  &#8220;data&#8221; merupakan suatu fakta yang belum  mengalami pengolahan. Data  tersebut akan menjadi informasi jakalau  diolah terlebih dahulu. &#8220;Data&#8221;  merupakan bukti kerja,   Merupakan alat untuk menilai/ mengevaluasi  kinerja,dan merupakan alat untuk menyusun perencanaan.Rekomendasi Kepala  Dinas Kesehatan :</p>
<ol>
<li>Laksanakan pertemuan rutin per bulan.</li>
<li>Pemberian reward dan Insentif pengelola data akan dipertimbangkan, kemudian dibayar berdasarkan kemampuan</li>
<li>Pengelola   data dapat diusulkan menjadi fungsional statistisi atau pranata   komputer dengan syarat mengikut diklat terlebih dahulu, kecuali yg   berlatar belakang statistik atau S.Kom (dapat diusul langsung).</li>
<li>Hasil kerja tim Pokja data akan dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan.</li>
<li>Penguatan komitmen diharapkan dimulai dari atas ke bawah.</li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1056/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1056/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1056/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1056&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/09/02/penguatan-komitmen-pengelola-data-lingkup-dinkes-prov-sulsel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepedulian terhadap Unmet Need KB di Prov.Sulawesi Selatan</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/08/14/kepedulian-terhadap-unmet-need-kb-di-prov-sulawesi-selatan/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/08/14/kepedulian-terhadap-unmet-need-kb-di-prov-sulawesi-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 22:03:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1051</guid>
		<description><![CDATA[by Akmal (BKKBN), Sudarianto (Dinkes), Sukmawati (UMI) Program kependudukan dan KB dilaksanakan oleh pemerintah dimaksudkan untuk mengatasi masalah kependudukan di Indonesia. Pada mulanya penanganan masalah kependudukan dan KB berangkat dari masalah utama kependudukan antara lain  jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan yang cukup tinggi dan penyebaran yang tidak merata. Program  keluarga berencana di Indonesia telah diakui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1051&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%2816%29.bmp" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="150" align="left" /><em>by Akmal (BKKBN), Sudarianto (Dinkes), Sukmawati (UMI)</em><br />
Program  kependudukan dan KB dilaksanakan oleh pemerintah dimaksudkan untuk  mengatasi masalah kependudukan di Indonesia. Pada mulanya penanganan  masalah kependudukan dan KB berangkat dari masalah utama kependudukan  antara lain  jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan yang cukup tinggi  dan penyebaran yang tidak merata.<br />
<span id="more-1051"></span>Program  keluarga berencana di  Indonesia telah diakui secara nasional dan internasional sebagai salah  satu program yang telah berhasil menurunkan angka fertilitas secara  nyata. Hal ini dapat dilihat dari TFR Indonesia hasil survey SDKI 2003  sebesar 2,4 dan menurun menjadi 2,3 tahun 2007 juga berdasarkan hasil  survey SDKI 2007.  Namun, program keluarga berencana di Indonesia ini  masih tetap menghadapi beberapa masalah penting dalam upaya  mempertahankan momentum program yang selama ini telah berhasil  dilaksankan. <strong><em><br />
</em></strong></div>
<div>Salah satu masalah dalam pengelolaan program KB  yaitu masih tingginya  angka unmet need, menurut data SDKI 2007 masih  sebebsar 9.1 persen,  dimana diharapkan pada akhir tahun 2014 dapat  diturunkan menjadi sebesar  5 persen. Sedangkan untuk Provinsi Sulawesi  Selatan masih sangat tinggi  yaitu sebesar 13,9 persen.<br />
<img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/akmal1.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="150" align="left" />Pasangan  usia subur yang tidak ingin anak lagi dan ingin menunda  kelahiran  tetapi tidak menggunakan suatu alat/cara KB modern (unmet need  KB)  merupakan suatu peluang untuk meningkatkan peserta KB, karena  apabila  kelompok PUS (Pasangan Usia Subur) tersebut dapat di diberikan  KIE  (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang memadai dan dapat dilayani   dengan baik maka mereka itu merupakan calon-calon akseptor KB.<br />
Walaupun tren peserta KB aktif di Provinsi Sulawesi Selatan terus    meningkat namun masih jauh dibawa rata-rata nasional. Hal tersebut   merupakan salah satu indikasi bahwa pengelolaan program KB di Sulawesi   Selatan masih harus ditingkatkan lagi.</div>
<p><strong><em>Gambar 1</em></strong>.  <em>Tren Prevalensi Peserta KB Aktif  menurut Hasil SDKI Provinsi  Sulawesi Selatan</em></p>
<div>Peserta Keluarga  Berencana di Provinsi Sulawesi Selatan masih didominasi  penggunaan alat  <img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%284%29.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="150" align="left" />kontrasepsi jangka pendek seperti suntik dan  pil.  Sedangkan  alat kontrasepsi jangka panjang dengan efektifitas yang tinggi  masih  kurang, hal ini harus diwaspadai khususnya penggunaan KB  tradisional  yang efektifitasnya sangat rendah namun prosentase  penggunaanya di  Sulawesi Selatan cukup tinggi jika dibandingkan dengan  penggunaan alat  kontrasepsi modern lainnya (kondom, imflan, iud dan  mow).</div>
<p><em>Gambar  2. Distribusi Peserta KB Aktif  menurut Alat Kontrasepsi Hasil SDKI  2007 Provinsi Sulawesi Selatan</em></p>
<p><img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/akmal3.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="150" align="left" />Gambar  3 . Distribusi Peserta KB Aktif  menurut Tingkat Pendidikan Hasil SDKI  2007 Provinsi Sulawesi Selatan</p>
<p>Gambar 4. Distribusi Pengetahuan  Alat Kontrasepsi  menurut <img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/akmal4.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="150" align="right" />Tingkat  Pendidikan Hasil SDKI 2007 Provinsi Sulawesi Selatan</p>
<p>Perbaikan kualitas pemakaian kontrasepsi merupakan  salah satu tujuan  dari program keluarga berencana. Salah satu ukuran  dari kualitas  pemakaian adalah efektifitas (kelangsungan) pemakaian  kontrasepsi yang  semakin tinggi. Alasan putus pakai bisa mencakup  kegagalan kontrasepsi,  ketidak puasan terhadap alat/cara KB, efek  samping, dan  kekurang-tersediaan alat/cara KB. Tingkat putus pakai yang  tinggi,  kegagalan alat/cara KB dan pergantian alat/cara KB bisa  mengindikasikan  bahwa diperlukan perbaikan dalam pemberian konseling  tentang pemilihan  alat/cara KB, pelayanan lanjutan dan penyediaan  pelayanan yang lebih  luas.<br />
Menurut  tren hasil SDKI menunjukkan  bahwa, persentase PUS yang tidak  ingin punya anak dan ingin menunda  kehamilannya tetapi tidak menggunakan  kontrasepsi atau kelompok unmet  need untuk Provinsi Sulawesi Selatan  masih sangat  tinggi dibandingkan  dengan rata-rata nasional, <img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%286%29.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="150" align="left" />Gambar 4. Tren Unmet Need KB Hasil SDKI 2007 Provinsi  Sulawesi Selatan</p>
<p>Mengapa pasangan usia subur tidak memakai  kontrasepsi, hal ini berkaitan  dengan tingkat pengetahuan, akses,  kualitas pelayanan dan ketersediaan  kontrasepsi. Untuk mengatasi  masalah tersebut perlu dilakukan suatu  pendekatan KIE dan  peningkatan  pelayanan operasional. Selanjutnya perlu  pendekatan, intervensi secara  partispatoris dengan memanfaatkan seluruh  jaringan yang ada di lini  lapangan. Sehingga diperlukan penanganan  unmet need yang lebih terfokus  agar pemakaian kontrasepsi dapat  meningkat.<br />
Beberapa hal yang  dapat mempengaruhi  pemakaian kontrasepsi antara lain adalah :<br />
•     Kualitas pelayanan yang baik memiliki peranan yang sangat besar  dalam  meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penerimaan dan  kelangsungan  pemakaian kontrasepsi<br />
•    Rasa takut terhadap efek samping yang  ditimbulkan oleh penggunaan  kontrasepsi akan menyebabkan penolakan  terhadap pemakaian kontrasepsi<br />
•    Keterbatasan distribusi alat  kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat<br />
•    Kurangnya  pengetahuan masyarakat terhadap berbagai macam kontrasepsi dengan  kelebihan dan kelemahannya masing-masing<br />
•    Akses masyarakat  terhadap pelayanan kontrasepsi</p>
<p>Kebijakan program KB dalam  mengendalikan tingkat kelahiran yaitu  peningkatan KIE bagi PUS tentang  Kesehatan Reproduksi (KR); melindungi  peserta KB dari dampak negatif  penggunaan alkon;  peningkatan kualitas  alkon dan peningkatan pemakaian  alkon efektif dan efisien harus terus  diupayakan. Disamping itu  memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan  KB dan KR yang  berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka  kematian ibu, bayi,  dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan  reproduksi tidak boleh  terlupakan.<br />
Untuk itu alternative kebijakan yang dapat dilakukan  untuk menangani  masalah tingginya unmet need KB  di Sulawesi Selatan  adalah sebagai  berikut:<br />
-    Memperkuat KIE dan advokasi<br />
KIE  dan Advokasi adalah langkah yang dilakukan untuk memberikan  pemahaman  tentang penggunaan berbagai kontrasepsi serta hasil yang  diharapkan  dari program KB yang pelaksanaanya diperlukan koordinasi  lintas sector  yang terkait.<br />
-    Refreshing/pelatihan bagi petugas penyuluh  lapangan<br />
Refreshing/pelatihan diperlukan untuk menyegarkan kembali  metode-metode  dan pengetahuan antara lain bagaimana memberikan  pemahaman kepada  masyarakat khususnya kepada PUS tentang pentingnya  revitalisasi program  KB.<br />
-    Rekrutmen penyuluh lapangan<br />
Di  Era otonomi sekarang banyak penyuluh lapangan yang punya potensi  untuk  beralih ke jenjang struktural. Olehnya itu dalam perekrutan  penyuluh  lapangan diperlukan kebijakan dalam bentuk aturan yang mengikat  pada  setiap penyuluh lapangan .<br />
-    Mengaktifkan kembali kader-kader KB  yang ada dilapangan<br />
Langkah yang dilakukan adalah mengatur kembali  mekanisme kerja  kader-kader KB di lapangan dengan memberikan insentif  yang memadai.<br />
-    Melibatkan Tokoh agama, tokoh masyarakat dan  tokoh adat dalam pengelolaan program<br />
Kondisi saat ini khususnya di  daerah/ di desa  tokoh agama,masyarakat  dan tokoh adat peranannya sudah  semakin berkurang terkorelasi dengan  semakin berkurangnya juga peranan  tenaga penyuluh di desa. Oleh karena  itu, diperlukan koordinasi dalam  pelibatan tokoh agama, masyarakat dan  tokoh adat untuk mendukung  revitalisasi program KB ke depan.<br />
-    Penyediaan sarana yang  memadai<br />
Diperlukan informasi yang jelas bagi tenaga penyuluh  sebagai ujung  tombak keberhasilan program KB. Informasi tersebut dapat  berbentuk buku  pedoman pelaksanaan tugas.<br />
-    Penyediaan dana  operasional lapangan yang memadai<br />
Alokasi dana untuk  program-program pemerintah daerah yang bersifat rutin  (tunjangan  perbaikan) yang tidak terlalu penting perlu dikurangi dan  lebih  diarahkan pada kegiatan-kegiatan operasional lapangan.<br />
-     Pembinaan dan pengawasan secara berjenjang<br />
Untuk menghindari  terjadinya ketimpangan pelaksanaan revitalisasi  program KB di daerah  (kabupaten/Kota) mulai dari hulu sampai ke hilir,  diperlukan pembinaan  dan pengawasan yang berjenjang.</p>
<p>Referensi:<br />
Survei Demografi  dan Kesehatan Indonesia (2007), BPS, BKKBN, Departemen Kesehatan, Macro  Internasional Calverton, Maryland USA.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1051/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1051&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/08/14/kepedulian-terhadap-unmet-need-kb-di-prov-sulawesi-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%2816%29.bmp" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/akmal1.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%284%29.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/akmal3.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/akmal4.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%286%29.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyakit HIV/AIDS, Kemunculannya seperti Fenomena Gunung Es</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/08/14/penyakit-hivaids-kemunculannya-seperti-fenomena-gunung-es/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/08/14/penyakit-hivaids-kemunculannya-seperti-fenomena-gunung-es/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 22:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[Penyakit HIV/AIDS yang merupakan new emerging diseases, dan merupakan pandemi pada semua kawasan, penyakit ini telah sejak lama menyita perhatian berbagai kalangan, tidak hanya terkait dengan domain kesehatan saja. Sering kali HIV/AIDS tertulis dan disebut sebagai satu istilah. Akan tetapi HIV dan AIDS mempunyai arti yang berbeda. HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1047&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/08/hiv-simbol.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1053" title="HIV-simbol" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/08/hiv-simbol.jpg?w=172&#038;h=180" alt="" width="172" height="180" /></a>Penyakit HIV/AIDS yang merupakan new emerging  diseases, dan merupakan pandemi pada semua kawasan, penyakit ini telah  sejak lama menyita perhatian berbagai kalangan, tidak hanya terkait  dengan domain kesehatan saja. Sering kali HIV/AIDS tertulis dan  disebut sebagai satu istilah. Akan tetapi HIV dan AIDS mempunyai arti  yang berbeda. HIV merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus.  Virus ini merupakan virus yang dapat menyebabkan AIDS. Jika anda  terinfeksi HIV, anda akan dipanggil HIV positif. Ini berarti virus HIV  telah masuk ke dalam aliran darah anda. Sampai saat ini, belum ada obat  yang bisa menyembuhkan HIV/AIDS dan virus itu akan tetap berada dalam  tubuh anda. <strong><br />
</strong></p>
<div><span id="more-1047"></span>AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune  Deficiency Syndrome. AIDS  jarang sekali terdiri dari satu penyakit saja  tetapi terdiri dari sebuah  kumpulan atau kombinasi berbagai macam  penyakit yang muncul karena  tubuhnya tidak dapat melawan penyakit lagi  seperti dulu. Pada saat darah  terinfeksi virus HIV maka sistem  kekebalan tubuh diserang dan dirusak  dengan perlahan-lahan sehingga  sistem kekebalan tubuh tidak dapat  melawan infeksi dan penyakit biasa  lagi. Setelah melewati waktu tertentu  (biasanya bertahun-tahun), sistem  kekebalan tubuh kita akan melemah.  Hanya seorang HIV positif yang  didiagnosa dengan satu atau lebih  penyakit dapat dikatakan menderita  AIDS.</div>
<div>Virus HIV dapat ditularkan dari  seseorang ke orang lain melalui aliran  darah. AIDS itu merupakan sebuah  penyakit yang muncul setelah virus HIV  menyerang sistem kekebalan  tubuh selama beberapa tahun. Anda tidak dapat  “terkena” atau  “memberikan” AIDS kepada orang lain, tetapi anda dapat  menularkan HIV.  Apabila anda dipanggil HIV positif ini berarti anda  telah terinfeksi  oleh virus HIV. Ini bukan berarti anda sakit AIDS.  Banyak obat-obatan  yang tersedia sekarang<br />
tidak dapat menyembuhkan HIV tetapi dapat  mencegah berkembang AIDS.</div>
<p>SURVEY DAN DATA SEKTORAL</p>
<div>Kasus penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh  ini, di Indonesia  senantiasa meningkat dari tahun ke tahun. Angka yang  dirilis oleh Ditjen  PP&amp;PL Depkes menyebutkan bahwa hingga Desember  2007, pengidap HIV  positif berjumlah 6.066 orang dengan penderita AIDS  sebanyak 11.141  orang. Selama 1 dasawarsa terakhir (1997-2007)  peningkatan kasus AIDS  terjadi lebih 40 kali.<br />
<img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/hiv%201.jpg" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="100" align="left" />Saat  ini Indonesia telah digolongkan sebagai negara dengan tingkat  epidemi  yang terkonsentrasi (concentrated level epidemic), yaitu adanya   prevalensi lebih dari 5% pada sub populasi tertentu misalnya pada   kelompok penjaja seks dan pada para penyalahguna NAPZA. Tingkat epidemi   ini menunjukkan tingkat perilaku beresiko yang cukup aktif menularkan  di  dalam suatu sub populasi tertentu. Selanjutnya perjalanan epidemi  akan  ditentukan oleh jumlah dan sifat hubungan antara kelompok beresiko   tinggi dengan populasi umum.<br />
Penyakit yang kemunculannya seperti  fenomena gunung es (iceberg  phenomena), yaitu jumlah penderita yang  dilaporkan jauh lebih kecil  daripada jumlah penderita yang sebenarnya,  ini sudah menyebar di  sebagian besar provinsi di Indonesia. Hal ini  berarti bahwa jumlah  pengidap infeksi HIV/AIDS yang sebenarnya di  Indonesia masih sangat  sulit diukur dan belum diketahui secara pasti.  Diperkirakan jumlah orang  dengan HIV di Indonesia pada akhir tahun 2003  mencapai 90.000–130.000  orang. Sementara jumlah kumulatif kasus  HIV/AIDS yang dilaporkan sampai  dengan 31 Desember 2003 sebanyak 4.091  kasus, yang terdiri dari 2.720  kasus infeksi HIV dan 1.371 kasus AIDS,  dan 479 kasus diantaranya telah  meninggal dunia. Cara penularan  HIV/AIDS yang menonjol adalah melalui  hubungan seks (heteroseksual)  yakni sebesar 50,62% dan penyalah-gunaan  NAPZA melalui suntik (IDU =  Intravena Drug Use) yakni sebesar 26,26%,  serta melalui hubungan  homoseksual, yaitu sebesar 9,34%.<br />
<img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/tren%20hiv.jpg" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="100" align="left" />Hasil SDKI 2007 menunjukkan bahwa terdapat 61% wanita pernah  kawin dan  71% pria kawin pernah mendengar tentang AIDS. Angka ini  serupa dengan  yang tercatat di SDKI 2002-2003 (59% pada wanita dan 73%  pada pria).  Wanita dengan umur 20-39 tahun, wanita berstatus kawin,  wanita yang  tinggal di perkotaan dan wanita berpendidikan lebih tinggi  lebih banyak  mendengar tentang AIDS dibanding wanita lainnya. Tingkat  pengetahuan  pada pria kawin mengikuti pola yang sama seperti pada  wanita, dengan  tingkat pengetahuan lebih tinggi pada pria perkotaan dan  pria  berpendidikan lebih tinggi. Meskipun banyak wanita dan pria  Indonesia  mempunyai pengetahuan dasar tentang AIDS, namun tingkat  pengetahuan  tentang cara mengurangi risiko terinfeksi pada umumnya  rendah.<br />
Hal ini ditunjukkan dengan adanya 42% wanita dan 52% pria  mengetahui  bahwa membatasi seks hanya dengan satu partner yang tidak  terinfeksi  sebagai cara mengurangi risiko penularan, 37% wanita dan 43%  setuju  bahwa tidak berhubungan seks akan mengurangi kemungkinan  terinfeksi dan  35% wanita dan 49% pria mengatakan penggunaan kondom  secara teratur akan  mengurangi kemungkinan terinfeksi. Selanjutnya,  pengetahuan tentang  Konseling Sukarela (Voluntary Counseling and  Testing/VCT) menunjukkan  hanya 8% wanita pernah kawin dilaporkan pernah  mendengar tentang adanya  konseling sukarela. Pengetahuan wanita umur  15-19 tahun sangat rendah  tentang konseling sukarela yakni sebesar 3%,  sedangkan wanita umur 20-39  tahun, wanita perkotaan, dan wanita lulus  SMP, lebih banyak mendengar  tentang konseling sukarela. Pengetahuan  tentang konseling sukarela lebih  rendah pada wanita yang mempunyai anak  lebih banyak, wanita tanpa anak  adalah yang paling banyak mendengar  tentang konseling sukarela dibanding  wanita dengan anak lainnya.  Sementara itu, hanya 7% pria kawin  melaporkan pernah mendengar tentang  VCT. Pria berumur 30-34 tahun,  tinggal di perkotaan, dan berpendidikan  tamat SLTP ke atas sepertinya  lebih banyak yang pernah mendengar  tentang VCT daripada wanita.  Pengetahuan tentang VCT menurun seiring  dengan banyaknya jumlah anak;  pria tanpa anak lebih banyak mengetahui  VCT dibandingkan pria yang  memiliki anak. Persentase wanita pernah  kawin dan pria kawin yang  mengetahui tempat pelayanan VCT dari rumah  sakit pemerintah cukup  tinggi, lebih dari 60%.<br />
Untuk di Sulawesi  Selatan, kegiatan utama pemberantasan penyakit kelamin  dan HIV/AIDS  adalah sero survei terhadap kelompok resiko tinggi dan  rendah yang  disertai dengan penyuluhan langsung kepada kelompok sasaran  tersebut.<br />
Hasil pemeriksaan sampel tersebut ditemukan STS positif sebanyak 51   sampel dan HIV positif 18 sampel sehingga jumlah kasus HIV positif   hingga tahun 2003 sebanyak 62 orang, penderita AIDS hingga Desember 2003   sebanyak 4 orang. Sedangkan sampai dengan Desember 2004, kegiatan Sero   Survei telah dilaksanakan di seluruh kab./kota se Sulawesi Selatan.  Dari  hasil pemeriksaan sampel tersebut ditemukan positif HIV sebanyak  84  sampel. Secara kumulatif jumlah pengidap HIV dan penderita AIDS  hingga  Desember 2005 sebanyak 398 kasus HIV+ dan 148 kasus AIDS.  Sementara  situasi pengidap HIV dan penderita AIDS sampai dengan bulan  Desember  2006 tercatat 279 penderita AIDS dan 915 pengidap HIV.  Berdasarkan hasil  sero survei ditemukan pengidap HIV 151 orang (7,57%)  dan Sifilis 85  orang (4,26%) dari total sampel (1.995 orang) yang  terdiri dari ABK,  Napi, PSK, Pramupijat, Pramuria, Sopir dan  pengunjung. Jumlah terbanyak  ditemukan pada jenis kelamin laki-laki  dengan kelompok umur 20-29 tahun  dan 30-39 tahun. Pada tahun 2007  jumlah penderita HIV meningkat sebanyak  1.065, sementara penderita AIDS  menurun menjadi 68 orang.<br />
Menurut laporan tahunan Bidang  Pencegahan Penayakit dan Penyehatan  Lingkungan (P2PL) Dinkes Prov.  Sulawesi Selatan tahun 2008, kasus  HIV-AIDS di Sulsel menunjukkan kasus  laki-laki cenderung lebih banyak di  banding perempuan.</div>
<div>Menurut data profil kesehatan kabupaten/kota tahun  2009, tercatat  penderita HIV/AIDS sebanyak 554 kasus, namun laporan  tahunan Bidang P2PL  Dinkes Prov. Sulawesi Selatan tahun 2009, kasus HIV  (410 kasus) dan  AIDS (118 kasus). Jika dilihat dari tahun 2006-2009,  kasus HIV/AIDS  menunjukkan grafik naik turun.</div>
<p>REKOMENDASI</p>
<ul>
<li>Perlu ada Perda HIV/AIDS</li>
</ul>
<ul>
<li> Perda itu memuat tentang sosialisasi, keikutsertaan berbagai pihak dalam  pencegahan</li>
</ul>
<ul>
<li> Perlu ada kurikulum HIV/AIDS di sekolah</li>
</ul>
<ul>
<li> Perlu ada kesepakatan pemuka agama untuk menyisipkan pesan bahaya  HIV/AIDS dalam ceramahnya.</li>
</ul>
<p>REFERENSI<br />
BPS, BKKBN,  Kemenkes, Macro international. 2007. Survey Demografi dan Kesehatan  Indonesia</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1047/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1047/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1047/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1047&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/08/14/penyakit-hivaids-kemunculannya-seperti-fenomena-gunung-es/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/08/hiv-simbol.jpg?w=287" medium="image">
			<media:title type="html">HIV-simbol</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/hiv%201.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/tren%20hiv.jpg" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sulsel masih butuh 1.927 tenaga perawat dan 5.497 tenaga bidan</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/08/14/sulsel-masih-butuh-1-927-tenaga-perawat-dan-5-497-tenaga-bidan/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/08/14/sulsel-masih-butuh-1-927-tenaga-perawat-dan-5-497-tenaga-bidan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Aug 2010 21:53:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1043</guid>
		<description><![CDATA[Rasio tenaga keperawatan di Sulsel hingga tahun 2009 sebesar 94,36 per 100.000 penduduk. Namun bila dirinci menurut jenisnya maka di Sulsel, pada tahun yang sama tercatat jumlah perawat sebanyak 7.859 orang dengan jumlah lulusan terbanyak berasal dari D-3 keperawatan (58,27%) dan SPK sebesar 29,21%. Proporsi tenaga perawat 61,12% dari seluruh tenaga kesehatan. Bila dibandingkan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1043&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/08/new-picture-7.png"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1044" title="New Picture (7)" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/08/new-picture-7.png?w=150&#038;h=75" alt="" width="150" height="75" /></a>Rasio tenaga keperawatan di Sulsel hingga tahun  2009 sebesar 94,36 per 100.000 penduduk. Namun bila dirinci menurut  jenisnya maka di Sulsel, pada tahun yang sama tercatat jumlah perawat  sebanyak 7.859 orang dengan jumlah lulusan terbanyak berasal dari D-3  keperawatan (58,27%) dan SPK sebesar 29,21%. Proporsi tenaga perawat  61,12% dari seluruh tenaga kesehatan. Bila dibandingkan dengan target  pencapaian IIS 2010 sebesar 117,5 per 100.000 penduduk maka Sulsel belum  mencapai target atau masih butuh sekitar 1.927 tenaga perawat.<br />
<span id="more-1043"></span>Sedangkan jumlah tenaga bidan sebanyak 2.829 orang atau  dengan proporsi sebesar 16,17% dari seluruh tenaga kesehatan, sementara  rasio tenaga bidan per 100.000 penduduk adalah sebesar 33,96 per  100.000 penduduk. Bila dibandingkan dengan target pencapaian IIS 2010,  Sulsel masih sangat membutuhkan tenaga bidan karena target hingga 2010  adalah 100 per 100.000 penduduk khususnya dalam memenuhi pos kesehatan  desa atau Sulsel masih butuh kira-kira 5.497 tenaga bidan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1043/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1043/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1043/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1043/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1043/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1043/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1043/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1043/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1043/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1043/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1043/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1043/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1043/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1043/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1043&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/08/14/sulsel-masih-butuh-1-927-tenaga-perawat-dan-5-497-tenaga-bidan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/08/new-picture-7.png?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">New Picture (7)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jumlah Puskesmas di Sulsel per Juni 2010 tercatat 412 unit</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/23/jumlah-puskesmas-di-sulsel-per-juni-2010-tercatat-412-unit/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/23/jumlah-puskesmas-di-sulsel-per-juni-2010-tercatat-412-unit/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 22:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1038</guid>
		<description><![CDATA[Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang berada di wilayah kecamatan yang melaksanakan tugas-tugas operasional pembangunan kesehatan. Pembangunan puskesmas di tiap kecamatan memiliki peran yang sangat penting dalam memelihara kesehatan masyarakat. Pada tahun 2008, jumlah Puskesmas seluruh Indonesia sebanyak 8.854 unit. Dengan rincian jumlah puskesmas perawatan 2.348 unit dan puskesmas non perawatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1038&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/random/51.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="128" align="left" /><em> </em>Puskesmas  merupakan unit pelaksana teknis dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota  yang berada di wilayah kecamatan yang melaksanakan tugas-tugas  operasional pembangunan kesehatan. Pembangunan puskesmas di tiap  kecamatan memiliki peran yang sangat penting dalam memelihara kesehatan  masyarakat.<br />
<span id="more-1038"></span>Pada tahun 2008, jumlah Puskesmas seluruh Indonesia  sebanyak 8.854 unit. Dengan rincian jumlah puskesmas perawatan 2.348  unit dan puskesmas non perawatan sebanayk 6.110 unit. Salah satu  indikator yang digunakan untuk mengetahui keterjangkauan penduduk  terhadap puskesmas adalah rasio puskesmas per 100.000 penduduk Jika  dilihat perkembangannya dari tahun 2004-2008, meningkat menjadi 8.854  unit pada tahun 2008. Namun pada periode tahun itu, rasio Puskesmas  terhadap 100.000 penduduk pada tahun 2004 sebesar 3.48, pada tahun 2008  meningkat menjadi 3,74 per 100.000 penduduk. Ini berarti bahwa pada  periode tahun itu setiap 100.000 penduduk rata-rata dilayani oleh 3 – 4  unit puskesmas.<strong><em>Klik judul untuk membaca selanjutnya.<br />
</em></strong></div>
<div>Di Sulawesi Selatan pada tahun 2006, jumlah  puskesmas di Sulsel tercatat  sebanyak 355 unit dengan 1.073 puskesmas  pembantu. Adapun rasio  puskesmas per 100.000 penduduk tetap sebesar  4,74 sedangkan rasio Pustu  terhadap puskesmas yakni 3:1. Pada tahun  2007, jumlah puskesmas  meningkat menjadi 380 unit, puskesmas pembantu  sebanyak 1.073 unit.  Rasio puskesmas per 100.000 penduduk sebesar 4,95  sedangkan rasio Pustu  terhadap puskesmas pada tahun 2007  yaitu 4 : 1.  Dan tahun 2008 jumlah  puskesmas meningkat menjadi 395 unit dengan 1.009  puskesmas pembantu.  Adapun rasio puskesmas per 100.000 penduduk  sebesar 5,01 sedangkan rasio  pustu terhadap puskesmas yakni 3,9.</div>
<div>Sedangkan pada tahun 2009, jumlah puskesmas meningkat menjadi 401 unit   dengan 1.210 puskesmas pembantu. Adapun rasio puskesmas per 100.000   penduduk sebesar 4,81 sedangkan rasio pustu terhadap puskesmas yakni   3,02. Gambaran rasio puskesmas per 100.000 penduduk menurut   kabupaten/kota dan gambaran jumlah puskesmas di Sulsel selama tahun 2002   – 2009 dapat dilihat pada pada gambar berikut.<img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/r_pusk.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="280" height="150" align="right" /><br />
Bila dibandingkan dengan konsep wilayah kerja puskesmas, dimana sasaran   penduduk yang dilayani oleh sebuah puskesmas rata-rata 20.000  penduduk,  maka jumlah puskesmas per 20.000 penduduk pada tahun 2009 di  Sulawesi  Selatan  rata-rata adalah 0,96 unit. Jika standar tersebut  dibandingkan  dengan jumlah penduduk Sulsel tahun 2009, maka Sulsel  masih butuh  puskesmas sekitar 15 unit.<br />
Dalam upaya peningkatan  mutu pelayanan kesehatan masyarakat di  puskesmas, beberapa puskesmas  telah ditingkatkan fungsinya menjadi  puskesmas dengan tempat perawatan.  Puskesmas perawatan ini terutama yang  berlokasi jauh dari rumah sakit,  di jalur-jalur jalan raya yang rawan  kecelakaan, serta diwilayah atau  pulau-pulau yang terpencil. Hingga  tahun 2009 jumlah puskesmas  perawatan telah menjadi 216 unit dan non  perawatan sebanyak 185 unit.</div>
<p>Hingga bulan Juni 2010, tercatat sebanyak 412 unit Puskesmas.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1038/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1038/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1038/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1038&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/23/jumlah-puskesmas-di-sulsel-per-juni-2010-tercatat-412-unit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/random/51.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/r_pusk.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KLB Penyakit di Sulsel pada Bulan Juni 2010</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/23/klb-penyakit-di-sulsel-pada-bulan-juni-2010/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/23/klb-penyakit-di-sulsel-pada-bulan-juni-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 22:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1036</guid>
		<description><![CDATA[by Lasudar Jumlah Kecamatan yang terkena KLB pada bulan Juni sebanyak 8 di 8 Kab./ Kota di Sulsel.  Dari kejadian tersebut dilaporkan sebanyak 30 penderita, yaitu 4 AFP, 23 keracunan makanan, 1 rabies, 1 tetanus toxoid, dan 1 demam berdarah. Dua diantara penderita tersebut meninggal dunia, karena rabies dan tetanus toxoid. Jika dilihat KLB penyakit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1036&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table style="height:22px;" width="477">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"></td>
<td width="100%" align="right"></td>
<td width="100%" align="right"></td>
<td width="100%" align="right"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="height:364px;" width="477">
<tbody>
<tr>
<td colspan="2" width="70%" align="left" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2" valign="top">
<div><em>by Lasudar</em><br />
<img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%2810%29.bmp" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="150" height="150" align="left" />Jumlah  Kecamatan yang terkena KLB pada bulan Juni sebanyak 8 di 8 Kab./ Kota  di Sulsel.  Dari kejadian tersebut dilaporkan sebanyak 30 penderita,  yaitu 4 AFP, 23 keracunan makanan, 1 rabies, 1 tetanus toxoid, dan 1  demam berdarah. Dua diantara penderita tersebut meninggal dunia, karena  rabies dan tetanus toxoid.</div>
<div>Jika dilihat  KLB penyakit berdasarkan Kab./Kota, ada 4 Kab./Kota dilaporkan terjadi  kasus AFP, yaitu Takalar, Sinjai, Jeneponto dan Luwu Utara masing-masing  satu penderita.  Sedangkan 23 kasus keracunan makanan terjadi di Kota  Makassar, 1 kasus rabies di Kab. Luwu, 1 kasus  TT di Kab. Bone dan  kasus demam berdarah di Kab. Tator. Sebanyak 56,6% kasus terjadi pada  perempuan dan 43,3% pada laki-laki.</div>
<p>Langkah-langkah yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan :<br />
a.    Pelacakan dan penanggulangan KLB<br />
b.    Pemberian pengobatan terhadap penderita<br />
c.    Penyelidikan epidemiologi sekitar lingkungan rumah penderita<br />
d.    Penyuluhan terhadap masyarakat tentang PHBS dan penanggulangannya<br />
e.    Pengambilan dan pengiriman specimen ke BLK Surabaya untuk AFP<br />
f.    Pengambilan dan pemeriksaa specimen ke BLK Makassar.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1036/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1036/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1036/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1036&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/23/klb-penyakit-di-sulsel-pada-bulan-juni-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%2810%29.bmp" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Status Gizi Balita di Sulsel</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/08/status-gizi-balita-di-sulsel/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/08/status-gizi-balita-di-sulsel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jul 2010 14:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1031</guid>
		<description><![CDATA[Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi pada Balita adalah dengan anthropometri yang diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB). Kategori yang digunakan adalah: gizi lebih (z-score&#62;+2 SD); gizi baik (z-score-2 SD sampai +2 SD); gizi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1031&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/07/gizi-balita1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1034" title="gizi balita" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/07/gizi-balita1.jpg?w=115&#038;h=150" alt="" width="115" height="150" /></a>Status gizi balita merupakan salah satu indikator  yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara  penilaian status gizi pada Balita adalah dengan anthropometri yang  diukur melalui indeks Berat Badan menurut umur (BB/U) atau berat badan  terhadap tinggi badan (BB/TB). Kategori yang digunakan adalah: gizi  lebih (z-score&gt;+2 SD); gizi baik (z-score-2 SD sampai +2 SD); gizi  kurang (z-score&lt;-2 SD sampai -3 SD) dan gizi buruk (z-score&lt;-3  SD).<br />
Sejak tahun 1992 untuk mengukur keadaan gizi anak balita  digunakan standar WHO-NCHS untuk index berat badan menurut umur. Namun  dari beberapa studi/survei yang melakukan pengukuran berat badan dan  tinggi badan (BB/TB), pada umumnya, pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan  gizi kurang yang lebih jelas, dan sensitif/peka dibandingkan prevalensi  berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur seperti hasil dari  pengukuran prevalensi gizi kurang menurut BB/TB (wasting) sesudah tahun  1992 berkisar antara 10 – 14 %. <em><strong></strong></em></p>
<div><span id="more-1031"></span>Masalah gizi kurang pada anak balita dikaji  kecenderungannya menurut  Susenas dan survei atau pemantauan lainnya.  Secara nasional, menurut  Susenas tahun 1989, prevalensi gizi buruk dan  kurang pada balita adalah  37,5 % menurun menjadi 24,7 % tahun 2000,  yang berarti mengalami  penurunan sekitar 34 %.<br />
Dari hasil Susenas  2001 di Indonesia, persentase Balita yang bergizi  baik adalah sebesar  64,14%, yang bergizi sedang 21,51% dan sisanya 9,35%  adalah Balita  bergizi kurang/ buruk atau yang dikenal dengan istilah  Kurang Kalori  Protein (KKP). Bila dibandingkan menurut jenis kelamin,  persentase  balita perempuan bergizi baik relatif lebih tinggi daripada  balita  laki-laki, demikian pula gizi kurang/buruk lebih tinggi pada  balita  laki-laki dibandingkan balita perempuan.<br />
Di Sulawesi Selatan, untuk  menanggulangi masalah gizi atau untuk  memperoleh gambaran perubahan  tingkat konsumsi gizi di tingkat rumah  tangga dan status gizi  masyarakat dilaksanakan beberapa kegiatan seperti  Pemantauan Konsumsi  Gizi (PKG) dan Pemantauan Status Gizi (PSG) di  seluruh kabupaten/kota.  Hasil Pemantauan Status Gizi yang dilaksanakan  pada tahun 2001  menggambarkan 84,7 % anak yang berstatus gizi baik, 11,3  % anak yang  berstatus gizi kurang, 1,0 % anak yang berstatus gizi buruk  dan 3,1 %  anak yang berstatus gizi lebih. Sedangkan untuk tahun 2004,  menurut  laporan yang diterima oleh Subdin Bina Kesehatan Keluarga dan KB  Dinkes  Prov. Sulsel tercatat bahwa jumlah KEP sebesar 13,48% (PSG,  2004).  Menurut hasil Survey Gizi Mikro Tahun 2006 balita gizi buruk  tercatat  sebesar 9%, sedangkan KEP total sebesar 28,5%.<br />
Secara umum  prevalensi gizi buruk di Sulawesi Selatan menurut hasil  Riskesdas  adalah 5,1% dan gizi buruk 12,5% dari 23 kab./kota terdapat  delapan  kab./kota yang diatas angka provinsi dan Sulawesi Selatan sudah   mencapai target pencapaian program perbaikan gizi pada RPJM 2015 sebesar   20%<br />
Pada kasus gizi buruk di Sulawesi Selatan pada tahun 2008  dengan adanya  gejala klinis terbagi atas 3 jenis, yaitu marasmus,  kwashiorkor, dan  gabungan marasmik-kwashiorkor. Jumlah kasus gizi buruk  berdasarkan ke  tiga jenis tersebut di Sulsel pada tahun 2008 sebanyak  95 kasus, empat  kabupaten/kota dengan kasus terbanyak antara lain Bone  (16 kasus),  Pinrang (15 kasus), Wajo (11 kasus), dan Jeneponto sebanyak  (8 kasus).<br />
Kasus gizi buruk yang sebanyak 95 itu terdiri dari  marasmus (48 kasus),  kwashiorkor (25 kasus), dan marasmik- kwashiorkor  (22 kasus). Marasmus  adalah gizi buruk yang disertai tanda-tanda  seperti badan sangat kurus  (kulit membungkus tulang), wajah seperti  orang tua (pipi kempot, mata  terlihat cekung), cengeng dan rewel, iga  gambang, perut cekung, tulang  belakang terlihat menonjol, kulit  keriput, jaringan lemak subkutis  sangat sedikit sampai tidak ada dan  sering disertai penyakit infeksi  serta diare. Kasus gizi buruk jenis  marasmus di Sulsel pada tahun 2008  sebanyak 48 kasus, empat  kabupaten/kota terbanyak antara lain Pinrang 12  kasus, Bone 11 kasus,  Luwu Timur 7 kasus dan Jeneponto sebanyak 6  kasus. Kwashiorkor adalah  keadaan gizi buruk yang disertai tanda-tanda  klinis seperti edema di  seluruh tubuh, rambut tipis, wajah membulat dan  sembab. Kasus gizi  buruk jenis kwashiorkor ditemukan terbanyak pada Kab.  Wajo (5 kasus),  Soppeng, Pinrang, Selayar, Bulukumba dan Bantaeng  masing-masing (3  kasus).<br />
Sedangkan gizi buruk jenis marasmik- kwashiorkor (M+K)  adalah gizi buruk  dengan gambaran klinis yang merupakan campuran dari  beberapa gejala  klinis kwashiorkor dan marasmus dengan BB/U &lt;60%  baku median WHO-NCHS  disertai edema yang tidak mencolok. Kasus M+K di  Sulsel pada tahun 2008  terbanyak di Kab. Enrekang (7 kasus), Pangkep (6  kasus), dan Bone (5  kasus).<br />
CFR gizi buruk di Sulawesi Selatan  pada tahun 2008 sebesar 1,1%, artinya  setiap 100 kasus gizi buruk  meninggal 1 orang. Kematian dengan kasus  gizi buruk dapat dilihat pada  peta dengan tanda titik, satu mewakili 3  kematian.<br />
Situasi gizi  buruk di Sulsel pada tahun 2009 berdasarkan profil  kesehatan Kab./Kota  tercatat sebanyak 2.825 orang (24,92% yang mendapat  perawatan).</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1031/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1031/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1031/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1031/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1031/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1031/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1031/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1031/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1031/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1031/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1031/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1031/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1031/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1031/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1031&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/08/status-gizi-balita-di-sulsel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/07/gizi-balita1.jpg?w=115" medium="image">
			<media:title type="html">gizi balita</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kasus Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah di Sulsel, 1,36% dari Jumlah Bayi Lahir</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/03/kasus-bayi-dengan-berat-badan-lahir-rendah-di-sulsel-136-dari-jumlah-bayi-lahir/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/03/kasus-bayi-dengan-berat-badan-lahir-rendah-di-sulsel-136-dari-jumlah-bayi-lahir/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jul 2010 00:26:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1028</guid>
		<description><![CDATA[Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena Intra Uterine Growth Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1028&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/07/bblr.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1029" title="BBLR" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/07/bblr.jpg?w=213&#038;h=300" alt="" width="213" height="300" /></a>Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari 2.500 gram)  merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian  perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR  karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena  Intra Uterine Growth Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup  bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang, banyak BBLR  dengan IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemia, malaria dan  menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat  hamil.<br />
Di Sulawesi Selatan pada tahun 2007, tercatat bahwa jumlah  bayi dengan berat badan lahir rendah sebanyak 2.416 (1,56% dari total  bayi lahir) dan yang tertangani sebanyak 2.451 orang (100%), dengan  kasus tertinggi terjadi di Kab. Sidrap (584 kasus) dan Kota Makassar  (295 kasus) dan yang terendah di Kota Palopo (8 kasus). <strong><em></em></strong><br />
<span id="more-1028"></span>Pada tahun 2008 jumlah bayi dengan BBLR mengalami penurunan menjadi   1.998 (1,36 % dari total jumlah bayi lahir) dan yang ditangani sebanyak   1.670 (83,58 %), sementara kasus tertinggi di Kota Makassar (251)  kasus,  menyusul Kab.Sidrap (172) kasus, Kota Pare-Pare (158) kasus dan   Kab.Pangkep (147) kasus dan terendah di Kab.Jeneponto sebanyak 22  kasus.<br />
Sedangkan untuk tahun 2009 jumlah bayi dengan BBLR mengalami  peningkata  menjadi 2.040 (1,36 % dari total jumlah bayi lahir) dan yang  ditangani  sebanyak 2.025 (99,26%), sementara kasus tertinggi di Kota  Makassar  (251) kasus, menyusul Kab.Sidrap (172) kasus, Kota Pare-Pare  (158) kasus  dan kasus terendah di Kab. Barru.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1028/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1028/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1028/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1028&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/07/03/kasus-bayi-dengan-berat-badan-lahir-rendah-di-sulsel-136-dari-jumlah-bayi-lahir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/07/bblr.jpg?w=213" medium="image">
			<media:title type="html">BBLR</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Angka kesakitan diare tertinggi di Sulsel (36,87-55,13 per 1000 penduduk)</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/06/25/angka-kesakitan-diare-tertinggi-di-sulsel-3687-5513-per-1000-penduduk/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/06/25/angka-kesakitan-diare-tertinggi-di-sulsel-3687-5513-per-1000-penduduk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 15:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kali atau lebih dalam 1 hari). Penyakit diare sampai kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih berfluktuasi, dan kematian diare yang dilaporkan oleh sarana pelayanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1024&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/06/diare.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1025" title="diare" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/06/diare.jpg?w=237&#038;h=300" alt="" width="237" height="300" /></a>Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda  adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai  mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kali  atau lebih dalam 1 hari).<br />
Penyakit diare sampai kini masih menjadi  masalah kesehatan masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih  berfluktuasi, dan kematian diare yang dilaporkan oleh sarana pelayanan  dan kader kesehatan mengalami penurunan namun penyakit diare ini masih  sering menimbulkan KLB yang cukup banyak bahkan menimbulkan kematian.<br />
<span id="more-1024"></span>Di  Indonesia, hasil survei yang dilakukan oleh program, diperoleh angka  kesakitan Diare untuk tahun 2000 sebesar 301 per 1.000 penduduk, angka  ini meningkat bila dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun  1996 sebesar 280 per 1.000 penduduk. Sedangkan berdasarkan laporan  kabupaten/ kota pada tahun 2008 diperoleh angka kesakitan diare sebesar  27,97 per 1000 penduduk. Sedangkan angka kesakitan diare pada tahun 2009  sebesar 27,25%. Jauh menurun jika dibandingkan 12 tahun sebelumnya. <em>Klik  judul untuk membaca selanjutnya</em></p>
<div>Kabupaten/kota dengan angka kesakitan  diare  tertinggi (36,87-55,13 per 1000 penduduk) yaitu Kab. Takalar,  Enrekang,  Tanatoraja, Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur (merah).  Sedangkan  terendah (1,16-19,40 per 1000 penduduk) yaitu Kab. Selayar,  Bulukumba,  Jeneponto, Sinjai, Maros, Bone, Sidrap, dan Parepare (hijau).</div>
<div>Pada tahun 2002 jumlah penderita pada KLB diare  tersebar pada 2  kabupaten/kota dengan 4 kecamatan dan 4 desa dengan  jumlah penderita  sebanyak 54 penderita tanpa kematian. Sedangkan tahun  2003, jumlah  penderita pada KLB diare tersebar pada 13 kabupaten/kota  dengan 21  kecamatan dan 27 desa dengan jumlah penderita sebanyak 1.156  penderita  dengan 45 kematian. Dan untuk jumlah kejadian, penderita dan  kematian  akibat diare cenderung menurun pada tahun 2004. Adapun jumlah  kejadian  luar biasa diare periode Januari–Desember 2004 sebanyak 21  kejadian,  dengan jumlah penderita sebanyak 1.145 orang dan jumlah  kematian  sebanyak 25 penderita (CFR=2,18%), tersebar pada 10 kabupaten,  15  kecamatan dan 24 desa. Untuk tahun 2005, jumlah kejadian luar biasa   diare periode Januari – Desember sebanyak 8 kejadian, 8 kab./kota  dengan  jumlah penderita sebanyak 443 orang, dengan kematian sebanyak 9  orang  (CFR=2,03%). Sementara di tahun 2006 tercatat jumlah KLB diare  sebanyak  14 kejadian, dengan jumlah penderita 465 orang dan CFR sebesar  2,15%.  Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi atau berhubungan dengan   terjadinya penyakit diare adalah belum meningkatnya kualitas kebiasaan   hidup bersih dan sehat masyarakat pada umumnya dan khususnya hygiene   perorangan, dan penggunaan sarana SAMIJAGA yang memenuhi syarat   kesehatan belum membudaya pada masyarakat di pedesaan.<br />
Sementara  itu, jumlah kasus/penderita diare yang dapat dihimpun melalui  laporan  dari 23 kabupaten/kota selama tahun 2003 adalah sebesar 172.742   penderita (IR=2,070/00), meninggal 73 orang (CFR=0,04%). Kabupaten/Kota   yang terlihat menunjukkan cakupan penemuan penderita tertinggi dalam   tahun 2003 ini adalah Kota Palopo 146,74%, Kota Makassar 115,04%, Kab.   Soppeng 112,63% dan Kab. Enrekang 111,67%. Untuk tahun 2004, kasus diare   yang dilaporkan sebanyak 177.409 kasus (cakupan 68,70%) dengan  kematian  sebanyak 66 orang (CFR=0,04%). Jumlah kasus tertinggi pada  kelompok  umur &gt; 5 tahun (91.379 kasus) kematian 29 orang dan  kelompok umur 1 –  4 tahun (57.087 kasus) kematian 17 orang sedang  jumlah kasus terendah  pada kelompok umur &lt; 1 tahun (28.946 kasus)  kematian 20 orang.  Kab./kota yang terlihat menunjukkan cakupan penemuan  penderita tertinggi  pada tahun 2004 masih tetap Kota Palopo (152,42%)  dan Kota Makassar  (128,62%). Sedangkan untuk kasus diare selama tahun  2005 tercatat  sebanyak 188.168 kasus (72,87%) dengan kematian sebanyak  57 orang  (CFR=0,03%). Jumlah kasus tertinggi pada kelompok umur &gt; 5  tahun  (100.347 kasus) dengan kematian 19 orang dan kelompok umur 1-4  tahun  (60.794 kasus) kematian 13 orang sedang jumlah kasus terendah  pada  kelompok umur &lt; 1 tahun (27.029 kasus) dengan kematian 25  orang.</div>
<div>Situasi pemberantasan penyakit  diare pada tahun 2006 tercatat sebanyak  173.359 kasus dengan cakupan  tertinggi di Kab. Enrekang (179,46%), Kota  Palopo (154,50%), Kota  Makassar (142,86%) dan Kab. Soppeng (109,10%).  Bila dikelompokkan ke  dalam kelompok umur maka jumlah kasus yang  tertinggi berada pada  kelompok umur &gt; 5 tahun (92.241 orang) dengan  kematian terbanyak  pada kelompok umur 1-4 tahun sebanyak 17 orang, pada  tahun 2007  penyakit diare tercatat mengalami penurunan yaitu sebanyak  209.435  kasus dengan jumlah kasus tertinggi  di Kab. Gowa (12.089  kasus). Bila  di kelompokkan ke dalam kelompok umur maka jumlah kasus  yang tertinggi  berada pada kelompok umur &lt; 5 tahun sebanyak 93.560  kasus.<br />
Berdasarkan profil kesehatan kabupaten/ kota pada tahun 2008, kasus   diare kembali mengalami penurunan yaitu 209.153 kasus, tertinggi masih   di Kota Makassar (45.929 kasus) dan terendah di Kab.Enrekang (400   kasus).Sedangkan pada tahun 2009 sebanyak 226,961 kasus, tertinngi di   Kota Makassar (45.014 kasus) dan terendah di Kab. Selayar.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1024/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1024/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1024/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1024&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/06/25/angka-kesakitan-diare-tertinggi-di-sulsel-3687-5513-per-1000-penduduk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/06/diare.jpg?w=237" medium="image">
			<media:title type="html">diare</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laporan Dinkes Kab./Kota : Kematian Ibu Maternal di Sulsel 78,84 per 100.000 KH</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/06/12/laporan-dinkes-kab-kota-kematian-ibu-maternal-di-sulsel-7884-per-100-000-kh/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/06/12/laporan-dinkes-kab-kota-kematian-ibu-maternal-di-sulsel-7884-per-100-000-kh/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 00:39:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1017</guid>
		<description><![CDATA[AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1017&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="/DOCUME%7E1/acer/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/06/21.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-1020" title="21" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/06/21.png?w=300&#038;h=136" alt="" width="300" height="136" /></a>AKI adalah banyaknya wanita yang meninggal dari  suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau  penanganannya selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari  setelah melahirkan) per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu  (AKI) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup  sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan,  tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan  kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas. Untuk mengantisipasi  masalah ini maka diperlukan terobosan-terobosan dengan mengurangi peran  dukun dan meningkatkan peran Bidan. Harapan  kita agar bidan di desa  benar-benar sebagai ujung tombak dalam upaya penurunan AKB (IMR) dan AKI  (MMR).<br />
<span id="more-1017"></span>Angka Kematian Ibu (AKI) diperoleh melalui berbagai survey  yang dilakukan secara khusus seperti survey di Rumah Sakit dan beberapa  survey di masyarakat dengan cakupan wilayah yang terbatas. Dengan  dilaksanakannya Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey  Demografi &amp; Kesehatan Indonesia (SDKI), maka cakupan wilayah  penelitian AKI menjadi lebih luas dibanding survey-survey sebelumnya.<br />
<img src="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%281%29.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="150" align="left" />Untuk melihat kecenderungan AKI di Indonesia secara  konsisten, digunakan  data hasil SKRT. Menurut SKRT, AKI menurun dari  450 per 100.000  kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.000  kelahiran hidup  pada tahun 1992, kemudian menurun lagi menjadi 373 per  100.000 kelahiran  hidup pada tahun 1995. Pada SKRT 2001 tidak  dilakukan survey mengenai  AKI. Pada tahun 2002-2003, AKI sebesar 307  per 100.000 kelahiran hidup  diperoleh dari hasil SDKI, kemudian menjadi  248 per 100.000 kelahiran  hidup (SDKI 2007). Hal ini menunjukkan AKI  cenderung terus menurun.  Tetapi bila dibandingkan dengan target yang  ingin dicapai secara  nasional pada tahun 2010, yaitu sebesar 125 per  100.000 kelahiran hidup,  maka apabila penurunannya masih seperti  tahun-tahun sebelumnya,  diperkirakan target tersebut dimasa mendatang  sulit tercapai.<br />
Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan oleh  Dinas Kesehatan  Kabupaten/ Kota di Sulawesi Selatan pada tahun 2006  sebanyak 133 orang   atau 101,56 per 100.000  kelahiran hidup, sedangkan  pada tahun 2007  sebanyak 143 kematian atau 92,89 per 100.000 kelahiran  hidup. Untuk  tahun 2008 jumlah kematian ibu maternal mengalami  penurunan menjadi 121  orang atau 85,17 per 100.000 kelahiran hidup dan  pada tahun 2009 menurun  lagi menjadi 118 orang atau 78,84 per 100.000  KH. Kematian ibu maternal  tersebut terdiri dari kematian ibu hamil  (19%), kematian ibu bersalin  (46%), dan kematian ibu nifas (35%).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1017/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1017/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1017/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1017&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/06/12/laporan-dinkes-kab-kota-kematian-ibu-maternal-di-sulsel-7884-per-100-000-kh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/06/21.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/Berita2/new%20picture%20%281%29.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah sehat di Sulsel baru mencapai 61,48%</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/06/12/rumah-sehat-di-sulsel-baru-mencapai-6148/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/06/12/rumah-sehat-di-sulsel-baru-mencapai-6148/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 00:25:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1012</guid>
		<description><![CDATA[Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1012&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/06/rumah-sehat.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-1013" title="Rumah sehat" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/06/rumah-sehat.png?w=300&#038;h=181" alt="" width="300" height="181" /></a>Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi  kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas  lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang  penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan  sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah  mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang  sehat dan layak dihuni Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi  didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau  masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal.<br />
<span id="more-1012"></span>Di Sulawesi  Selatan, berdasarkan laporan Bidang P2&amp;PL Dinkes Provinsi Sulsel  tahun 2004 persentase rumah sehat meningkat menjadi 63,34%, pada tahun  2005 meningkat lagi menjadi 64,29%, tahun 2006 mencapai 64,69% dan untuk  tahun 2007 turun menjadi 55,49%, tahun 2008 meningkat lagi sebesar  68,54 %, kemudian di tahun 2009 menurun lagi menjadi 61,48%.  Bila  dibandingkan dengan target pencapaian IIS 2010 (80%) maka hal ini  berarti masih terpaut 18,52 % dari target. Dengan demikian masih terus  dibutuhkan upaya-upaya yang mengarah kepada peningkatan pencapaian rumah  sehat.<br />
Bila dibandingkan dengan rata-rata pencapaian di provinsi,  maka masih terdapat 41,66% kab./kota yang pencapaiannya di bawah  rata-rata provinsi. Adapun pencapaian persentase rumah sehat untuk  masing-masing kab./kota, yang tertinggi di Kabupaten Tatatoraja  (94,99%), sedangkan yang terendah di Kab. Selayar (20,35%). Hal ini  tergantung dengan jumlah rumah yang diperiksa</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1012/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1012/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1012/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1012&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/06/12/rumah-sehat-di-sulsel-baru-mencapai-6148/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/06/rumah-sehat.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Rumah sehat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Survei Sentinel; Penyakit Tidak Menular (PTM) Berbasis Puskesmas Terbanyak [Hypertensi]</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/survei-sentinel-penyakit-tidak-menular-ptm-berbasis-puskesmas-terbanyak-hypertensi/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/survei-sentinel-penyakit-tidak-menular-ptm-berbasis-puskesmas-terbanyak-hypertensi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 14:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan survei sentinel, Penyakit Tidak Menular (PTM) berbasis Puskesmas terbanyak adalah Hypertensi, sedang Penyakit Tidak Menular (PTM) berbasis Rumah Sakit yaitu Kecelakaan. Penyakit Tidak Menular (PTM) berbasis Puskesmas Surveilans rutin penyakit tidak menular pada puskesmas sentinel di Sulawesi Selatan pada tahun 2008, ditemukan sebanyak 99.862 kasus penyakit tidak menular, yang terdiri dari perempuan (50.862) kasus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1009&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Berdasarkan survei sentinel<strong><em>, </em></strong>Penyakit  Tidak Menular (PTM) berbasis Puskesmas terbanyak adalah Hypertensi,  sedang Penyakit Tidak Menular (PTM) berbasis Rumah Sakit yaitu  Kecelakaan.<br />
<strong><em>Penyakit Tidak Menular (PTM) berbasis  Puskesmas</em></strong><br />
<img src="http://1.1.1.3/bmi/dinkes-sulsel.go.id/new/images/random/17.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="120" align="left" />Surveilans rutin penyakit tidak menular pada puskesmas  sentinel di Sulawesi Selatan pada tahun 2008, ditemukan sebanyak 99.862  kasus penyakit tidak menular, yang terdiri dari perempuan (50.862) kasus  dan laki-laki (48.449) kasus. Jumlah kematian karena PTM sebanyak 666  orang (0,7%).</div>
<div>
<div><span id="more-1009"></span>Lima  penyakit urutan terbesar ditemukan pada puskesmas sentinel tahun 2008  antara lain hipertensi (57,48%), kecelakaan lalu lintas (16,77%), asma  (13,23%), diabetes mellitus (7,95%), dan osteoporosis (1,20%). Tetapi 5  urutan penyebab kematian karena PTM yang ditemukan pada puskesmas  sentinel antara lain hipertensi (63,66%), kecelakaan lalu lintas  (14,86%), asma (9,91%), diabetes mellitus (9,76%), dan tumor genital  (1,50%).</div>
</div>
<div>Sedangkan pada tahun 2009,  ditemukan lima penyakit tidak menular urutan terbesar di Puskesmas  antara lain hypertensi (49,56%), Kecelakaan (16,96%), Asma (14,21),  Diabetes Mellitus (7,31%) dan Tumor (6,91%).<br />
baca  selanjutnya&#8230;&#8230;&#8230;..</div>
<p><strong><em><br />
</em></strong><strong><em>Penyakit  Tidak Menular (PTM) berbasis Rumah Sakit</em></strong></p>
<div><img src="http://1.1.1.2/bmi/dinkes-sulsel.go.id/new/images/random/16.png" border="1" alt=" " hspace="5" vspace="5" width="200" height="150" align="left" />Berdasarkan hasil surveilans PTM berbasis rumah sakit di  Sulawesi Selatan pada tahun 2008, diperoleh informasi bahwa lima urutan  PTM terbanyak ditemukan pada rumah sakit sentinel, yaitu kecelakaan lalu  lintas (30,50%), hypertensi (17,63%), asma (7,53%), diabetes mellitus  (6,65%), dan stroke (5,86%). Sedangkan lima urutan terbesar PTM penyebab  kematian, yaitu hypertensi primer (22,07%), kecelakaan lalu lintas  (16,61%), hypertensi sekunder (14,58%), stroke (6,66%), dan dibetes  mellitus (6,28%).<br />
Sedangkan pada tahun 2009, berdasarkan survei  sentinel di rumah sakit ditemukan lima penyakit tidak menular urutan  terbesar, antara lain kecelakaan (29,48%), hypertensi (20,87%), asma  (7,43%), tindak kekerasan (5,67%), dan diabetes mellitus (4,99%).</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1009/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1009/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1009/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1009&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/survei-sentinel-penyakit-tidak-menular-ptm-berbasis-puskesmas-terbanyak-hypertensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.1.1.3/bmi/dinkes-sulsel.go.id/new/images/random/17.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.1.1.2/bmi/dinkes-sulsel.go.id/new/images/random/16.png" medium="image">
			<media:title type="html"> </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kasus Malaria di Sulsel, masih Tinggi di Selayar, Bulukumba, Pangkep dan Luwu Utara</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/kasus-malaria-di-sulsel-masih-tinggi-di-selayar-bulukumba-pangkep-dan-luwu-utara/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/kasus-malaria-di-sulsel-masih-tinggi-di-selayar-bulukumba-pangkep-dan-luwu-utara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 14:20:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia diperkirakan setiap tahunnya terdapat 15 juta penderita malaria dan 30.000 orang diantaranya meninggal dunia (Survei Kesehatan Rumah Tangga/SKRT, 1995). Penyakit Malaria menyebar cukup merata di seluruh kawasan Indonesia, namun paling banyak dijumpai di luar wilayah Jawa-Bali, bahkan di beberapa tempat dapat dikatakan sebagai daerah endemis malaria. Menurut hasil pemantauan program diperkirakan sebesar 35% [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1006&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/05/malaria09.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-1007" title="Malaria09)" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/05/malaria09.png?w=210&#038;h=300" alt="" width="210" height="300" /></a>Di Indonesia diperkirakan setiap tahunnya terdapat  15 juta penderita malaria dan 30.000 orang diantaranya meninggal dunia  (Survei Kesehatan Rumah Tangga/SKRT, 1995). Penyakit Malaria menyebar  cukup merata di seluruh kawasan Indonesia, namun paling banyak dijumpai  di luar wilayah Jawa-Bali, bahkan di beberapa tempat dapat dikatakan  sebagai daerah endemis malaria. Menurut hasil pemantauan program  diperkirakan sebesar 35% penduduk Indonesia tinggal di daerah endemis  Malaria. Perkembangan penyakit Malaria pada beberapa tahun terakhir  cenderung mengalami peningkatan di semua wilayah. Di Jawa-Bali kenaikan  tersebut ditandai dengan meningkatnya API sedangkan di luar Jawa-Bali  ditandai dengan peningkatan AMI.<br />
<span id="more-1006"></span>Terjadinya peningkatan kasus  diakibatkan antara lain adanya perubahan lingkungan seperti penambangan  pasir yang memperluas genangan air sebagai tempat perindukan nyamuk  penular malaria, penebangan hutan bakau, mobilitas penduduk dari P. Jawa  ke luar Jawa yang sebagian besar masih merupakan daerah endemis malaria  dan obat malaria yang resisten yang semakin meluas.<br />
Kegiatan  penemuan penderita di Sulsel, sifatnya pasif dan dilaksanakan oleh  unit-unit pelayanan kesehatan (Pustu, Puskesmas dan Rumah Sakit). Dari  24 kabupaten/kota yang melapor pada tahun 2002 ditemukan penderita  Malaria Klinis sebanyak 16.128 penderita dengan sediaan darah yang  diperiksa sebanyak 6.251 SD dan yang positif sebanyak 958 (SPR = 15,33  %).<br />
Pada tahun 2009 jumlah penderita malaria klinis mengalami  peningkatan menjadi 11.305 kasus dengan jumlah positif sebanyak 1.963  kasus (17,36%). Kasus tertinggi di Kab. Bulukumba, Selayar, Pangkep, dan  Luwu Utara (merah) atau AMI sebesar 1,36 per 1000 penduduk. Jumlah  penderita malaria yang dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif  terbesar di Kab. Bulukumba, Luwu Utara, Enrekang dan Selayar  (titik-titik) atau API sebesar 0,24 per 1000 penduduk, seperti pada peta  di atas.</p>
<div>Situasi pada tahun 2003  tercatat bahwa penemuan penderita secara pasif (Malaria Klinis)  dilaporkan dari 26 kabupaten/kota sebanyak 8.491 kasus Malaria Klinis,  jumlah specimen yang diperiksa sebanyak 5.389 dan yang positif sebanyak  1.365 (63,47%). Untuk tahun 2004, jumlah penderita klinis malaria  sebanyak 12.009 penderita (AMI = 1.433 per mil), angka tersebut  menunjukkan peningkatan sebesar 1,43% dibandingkan dengan tahun 2003.</div>
<div>Sementara untuk tahun 2005, data yang dihimpun melalui  Subdin P2&amp;PL Dinkes Prov. Sulsel tercatat 9.461 kasus Malaria  Klinis, jumlah specimen yang diperiksa sebanyak 3.832 (40,50%) dan yang  positif sebanyak 3,42%. Di tahun 2006, tercatat bahwa hasil kegiatan  penemuan dan pengobatan penderita sebanyak 846 orang (21,75%) dari 4.031  sediaan darah yang diperiksa atau 57,76% dari jumlah klinis yang  dilaporkan (6.979 kasus) dengan kasus tertinggi di Kab. Bulukumba, Kab.  Selayar, dan Kab. Soppeng. Untuk tahun 2007 jumlah penderita Malaria  klinis sebanyak 13.029 penderita dengan jumlah yang positif sebanyak  1.927 orang (14,79 %) dengan kasus tertinggi di Kab.Selayar, Bulukumba,  Enrekang dan Tator.<br />
Pada tahun 2008 jumlah penderita malaria klinis  mengalami penurunan menjadi 8.886 kasus dengan jumlah positif sebanyak  1.153 kasus (12,98 %). Kasus tertinggi di Kab. Selayar, Pangkep, Luwu  Utara, Enrekang dan Tator atau AMI sebesar 1,14 per 1000 penduduk.  Jumlah penderita malaria yang di konfirmasi laboratorium dengan hasil  positif terbesar di Kab. Selayar, Enrekang, dan Luwu Utara atau API  sebesar 0,15 per 1000 penduduk.<br />
Sedangkan untuk tahun 2009 jumlah  penderita malaria klinis mengalami peningkatan menjadi 11.305 kasus  dengan jumlah positif sebanyak 1.963 kasus (17,36%). Kasus tertinggi di  Kab. Bulukumba, Selayar, Pangkep, dan Luwu Utara (merah) atau AMI  sebesar 1,36 per 1000 penduduk. Jumlah penderita malaria yang  dikonfirmasi laboratorium dengan hasil positif terbesar di Kab.  Bulukumba, Luwu Utara, Enrekang dan Selayar (titik-titik) atau API  sebesar 0,24 per 1000 penduduk,.</div>
<p>Adapun  upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menekan angka kesakitan tersebut  adalah pengendalian vektor di daerah endemis, pencegahan penyakit dengan  memakai kelambu berinsektisida, sosialisasi obat malaria ACT, penemuan  dan pengobatan penderita (active dan passive) serta pengamatan vektor  penyakit.<br />
Selain itu dilakukan juga Survei malariometrik yang  merupakan survei malariometrik dasar. Survei ini bertujuan untuk  mengetahui tingkat endemisitas penyakit malaria di suatu wilayah,  berdasarkan indikasi ditemukannya pembesaran limpha atau kasus-kasus  malaria yang berkunjung ke unit-unit pelayanan kesehatan yang berasal  dari suatu wilayah tertentu dan evaluasi terhadap dampak pemberantasan  vektor.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1006/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1006/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1006/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1006&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/kasus-malaria-di-sulsel-masih-tinggi-di-selayar-bulukumba-pangkep-dan-luwu-utara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/05/malaria09.png?w=210" medium="image">
			<media:title type="html">Malaria09)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Situasi Penyakit Diare di Sulsel</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/situasi-penyakit-diare-di-sulsel/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/situasi-penyakit-diare-di-sulsel/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 14:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=1003</guid>
		<description><![CDATA[Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kali atau lebih dalam 1 hari). Penyakit diare sampai kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih berfluktuasi, dan kematian diare yang dilaporkan oleh sarana pelayanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1003&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/05/diare2009.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-1004" title="diare2009" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/05/diare2009.png?w=234&#038;h=300" alt="" width="234" height="300" /></a>Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda  adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai  mencair dan bertambahnya frekwensi berak lebih dari biasanya. (3 kali  atau lebih dalam 1 hari).<br />
Penyakit diare sampai kini masih menjadi  masalah kesehatan masyarakat, walaupun secara umum angka kesakitan masih  berfluktuasi, dan kematian diare yang dilaporkan oleh sarana pelayanan  dan kader kesehatan mengalami penurunan namun penyakit diare ini masih  sering menimbulkan KLB yang cukup banyak bahkan menimbulkan kematian.<br />
<span id="more-1003"></span>Di  Indonesia, hasil survei yang dilakukan oleh program, diperoleh angka  kesakitan Diare untuk tahun 2000 sebesar 301 per 1.000 penduduk, angka  ini meningkat bila dibandingkan dengan hasil survei yang sama pada tahun  1996 sebesar 280 per 1.000 penduduk. Sedangkan berdasarkan laporan  kabupaten/ kota pada tahun 2008 diperoleh angka kesakitan diare sebesar  27,97 per 1000 penduduk. Sedangkan angka kesakitan diare pada tahun 2009  sebesar 27,25 per 1000 penduduk. Jauh menurun jika dibandingkan 12  tahun sebelumnya.Pada peta di atas,  Kabupaten/kota dengan angka kesakitan diare tertinggi pada tahun 2009  (36,87-55,13 per 1000 penduduk) yaitu Kab. Takalar, Enrekang,  Tanatoraja, Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur (merah). Sedangkan  terendah (1,16-19,40 per 1000 penduduk) yaitu Kab. Selayar, Bulukumba,  Jeneponto, Sinjai, Maros, Bone, Sidrap, dan Parepare (hijau).<br />
Berdasarkan  profil kesehatan kabupaten/ kota pada tahun 2008, kasus diare kembali  mengalami penurunan yaitu 209.153 kasus, tertinggi masih di Kota  Makassar (45.929 kasus) dan terendah di Kab.Enrekang (400  kasus).Sedangkan pada tahun 2009 sebanyak 226,961 kasus, tertinngi di  Kota Makassar (45.014 kasus) dan terendah di Kab. Selayar</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/1003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/1003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/1003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/1003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/1003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/1003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/1003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/1003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/1003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/1003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/1003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/1003/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/1003/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/1003/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=1003&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/situasi-penyakit-diare-di-sulsel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/05/diare2009.png?w=234" medium="image">
			<media:title type="html">diare2009</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HIV/AIDS dan Penyakit Menular Melalui Hubungan Seksual (PMS) di Sulsel</title>
		<link>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/998/</link>
		<comments>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/998/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 13:58:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sudarianto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://datinkessulsel.wordpress.com/?p=998</guid>
		<description><![CDATA[Penyakit HIV/AIDS yang merupakan new emerging diseases, dan merupakan pandemi pada semua kawasan, penyakit ini telah sejak lama menyita perhatian berbagai kalangan, tidak hanya terkait dengan domain kesehatan saja. Kasus penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini, di Indonesia senantiasa meningkat dari tahun ke tahun. Angka yang dirilis oleh Ditjen PP&#38;PL Depkes menyebutkan bahwa hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=998&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em></em><a href="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/05/14.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-999" title="14" src="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/05/14.jpg?w=300&#038;h=198" alt="" width="300" height="198" /></a>Penyakit  HIV/AIDS yang merupakan new emerging diseases, dan merupakan pandemi  pada semua kawasan, penyakit ini telah sejak lama menyita perhatian  berbagai kalangan, tidak hanya terkait dengan domain kesehatan saja.  Kasus penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh ini, di Indonesia  senantiasa meningkat dari tahun ke tahun. Angka yang dirilis oleh Ditjen  PP&amp;PL Depkes menyebutkan bahwa hingga Desember 2007, pengidap HIV  positif berjumlah 6.066 orang dengan penderita AIDS sebanyak 11.141  orang. Selama 1 dasawarsa terakhir (1997-2007) peningkatan kasus AIDS  terjadi lebih 40 kali.<br />
<span id="more-998"></span>Saat ini Indonesia telah digolongkan sebagai  negara dengan tingkat epidemi yang terkonsentrasi (concentrated level  epidemic), yaitu adanya prevalensi lebih dari 5% pada sub populasi  tertentu misalnya pada kelompok penjaja seks dan pada para penyalahguna  NAPZA. Tingkat epidemi ini menunjukkan tingkat perilaku beresiko yang  cukup aktif menularkan di dalam suatu sub populasi tertentu. Selanjutnya  perjalanan epidemi akan ditentukan oleh jumlah dan sifat hubungan  antara kelompok beresiko tinggi dengan populasi umum.<br />
Penyakit yang kemunculannya seperti fenomena gunung es  (iceberg phenomena), yaitu jumlah penderita yang dilaporkan jauh lebih  kecil daripada jumlah penderita yang sebenarnya, ini sudah menyebar di  sebagian besar provinsi di Indonesia. Hal ini berarti bahwa jumlah  pengidap infeksi HIV/AIDS yang sebenarnya di Indonesia masih sangat  sulit diukur dan belum diketahui secara pasti. Diperkirakan jumlah orang  dengan HIV di Indonesia pada akhir tahun 2003 mencapai 90.000–130.000  orang. Sementara jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS yang dilaporkan sampai  dengan 31 Desember 2003 sebanyak 4.091 kasus, yang terdiri dari 2.720  kasus infeksi HIV dan 1.371 kasus AIDS, dan 479 kasus diantaranya telah  meninggal dunia. Cara penularan HIV/AIDS yang menonjol adalah melalui  hubungan seks (heteroseksual) yakni sebesar 50,62% dan penyalah-gunaan  NAPZA melalui suntik (IDU = Intravena Drug Use) yakni sebesar 26,26%,  serta melalui hubungan homoseksual, yaitu sebesar 9,34%.<br />
Hasil SDKI  2007 menunjukkan bahwa terdapat 61% wanita pernah kawin dan 71% pria  kawin pernah mendengar tentang AIDS. Angka ini serupa dengan yang  tercatat di SDKI 2002-2003 (59% pada wanita dan 73% pada pria). Wanita  dengan umur 20-39 tahun, wanita berstatus kawin, wanita yang tinggal di  perkotaan dan wanita berpendidikan lebih tinggi lebih banyak mendengar  tentang AIDS dibanding wanita lainnya. Tingkat pengetahuan pada pria  kawin mengikuti pola yang sama seperti pada wanita, dengan tingkat  pengetahuan lebih tinggi pada pria perkotaan dan pria berpendidikan  lebih tinggi. Meskipun banyak wanita dan pria Indonesia mempunyai  pengetahuan dasar tentang AIDS, namun tingkat pengetahuan tentang cara  mengurangi risiko terinfeksi pada umumnya rendah.<br />
Hal ini ditunjukkan  dengan adanya 42% wanita dan 52% pria mengetahui bahwa membatasi seks  hanya dengan satu partner yang tidak terinfeksi sebagai cara mengurangi  risiko penularan, 37% wanita dan 43% setuju bahwa tidak berhubungan seks  akan mengurangi kemungkinan terinfeksi dan 35% wanita dan 49% pria  mengatakan penggunaan kondom secara teratur akan mengurangi kemungkinan  terinfeksi. Selanjutnya, pengetahuan tentang Konseling Sukarela  (Voluntary Counseling and Testing/VCT) menunjukkan hanya 8% wanita  pernah kawin dilaporkan pernah mendengar tentang adanya konseling  sukarela. Pengetahuan wanita umur 15-19 tahun sangat rendah tentang  konseling sukarela yakni sebesar 3%, sedangkan wanita umur 20-39 tahun,  wanita perkotaan, dan wanita lulus SMP, lebih banyak mendengar tentang  konseling sukarela. Pengetahuan tentang konseling sukarela lebih rendah  pada wanita yang mempunyai anak lebih banyak, wanita tanpa anak adalah  yang paling banyak mendengar tentang konseling sukarela dibanding wanita  dengan anak lainnya. Sementara itu, hanya 7% pria kawin melaporkan  pernah mendengar tentang VCT. Pria berumur 30-34 tahun, tinggal di  perkotaan, dan berpendidikan tamat SLTP ke atas sepertinya lebih banyak  yang pernah mendengar tentang VCT daripada wanita. Pengetahuan tentang  VCT menurun seiring dengan banyaknya jumlah anak; pria tanpa anak lebih  banyak mengetahui VCT dibandingkan pria yang memiliki anak. Persentase  wanita pernah kawin dan pria kawin yang mengetahui tempat pelayanan VCT  dari rumah sakit pemerintah cukup tinggi, lebih dari 60%.<br />
Untuk di  Sulawesi Selatan, kegiatan utama pemberantasan penyakit kelamin dan  HIV/AIDS adalah sero survei terhadap kelompok resiko tinggi dan rendah  yang disertai dengan penyuluhan langsung kepada kelompok sasaran  tersebut.<br />
Hasil pemeriksaan sampel tersebut ditemukan STS positif  sebanyak 51 sampel dan HIV positif 18 sampel sehingga jumlah kasus HIV  positif hingga tahun 2003 sebanyak 62 orang sedang penderita AIDS hingga  Desember 2003 sebanyak 4 orang. Sedangkan sampai dengan Desember 2004,  kegiatan Sero Survei telah dilaksanakan di seluruh kab./kota se Sulawesi  Selatan. Dari hasil pemeriksaan sampel tersebut ditemukan positif HIV  sebanyak 84 sampel. Secara kumulatif jumlah pengidap HIV dan penderita  AIDS hingga Desember 2005 sebanyak 398 kasus HIV+ dan 148 kasus AIDS.  Sementara situasi pengidap HIV dan penderita AIDS sampai dengan bulan  Desember 2006 tercatat 279 penderita AIDS dan 915 pengidap HIV.  Berdasarkan hasil sero survei ditemukan pengidap HIV 151 orang (7,57%)  dan Sifilis 85 orang (4,26%) dari total sampel (1.995 orang) yang  terdiri dari ABK, Napi, PSK, Pramupijat, Pramuria, Sopir dan pengunjung.  Jumlah terbanyak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki dengan kelompok  umur 20-29 tahun dan 30-39 tahun. Pada tahun 2007 jumlah penderita HIV  meningkat sebanyak 1.065, sementara penderita AIDS menurun menjadi 68  orang.<br />
Berdasarkan data profil kesehatan kabupaten/kota tahun 2009,  tercatat penderita HIV/AIDS sebanyak 554 kasus, namun laporan tahunan  Bidang P2PL Dinkes Prov. Sulawesi Selatan tahun 2009, kasus HIV (410  kasus) dan AIDS (118 kasus). Jika dilihat dari tahun 2006-2009, kasus  HIV/AIDS menunjukkan grafik naik turun.<br />
Hasil SDKI 2007 di Sulawesi  Selatan terdapat 48% wanita dan 57,1% pria yang pernah mendengar tentang  AIDS. Tingkat pengetahuan tentang cara mengurangi risiko terinfeksi  pada umumnya rendah. Hal ini ditunjukkan dengan adanya 32% wanita dan  42,7% pria mengetahui bahwa membatasi seks hanya dengan satu partner  yang tidak terinfeksi sebagai cara mengurangi risiko penularan, 28,4%  wanita dan 43,3% setuju bahwa tidak berhubungan seks akan mengurangi  kemungkinan terinfeksi dan 27,5% wanita dan 40,5% pria mengatakan  penggunaan kondom secara teratur akan mengurangi kemungkinan terinfeksi.  Selanjutnya, pengetahuan tentang Konseling Sukarela (Voluntary  Counseling and Testing/VCT) menunjukkan hanya 6% wanita pernah kawin  dilaporkan pernah mendengar tentang adanya konseling sukarela.  Persentase wanita pernah kawin yang mengetahui tempat pelayanan VCT dari  rumah sakit pemerintah cukup tinggi yakni sebesar 78%.<a href="http://dinkes-sulsel.go.id/new/images/pdf/tab%2010.xls" target="_blank"><br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/datinkessulsel.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/datinkessulsel.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/datinkessulsel.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/datinkessulsel.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/datinkessulsel.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/datinkessulsel.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/datinkessulsel.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/datinkessulsel.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/datinkessulsel.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/datinkessulsel.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/datinkessulsel.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/datinkessulsel.wordpress.com/998/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/datinkessulsel.wordpress.com/998/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/datinkessulsel.wordpress.com/998/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=datinkessulsel.wordpress.com&amp;blog=4750588&amp;post=998&amp;subd=datinkessulsel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://datinkessulsel.wordpress.com/2010/05/27/998/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">bnnpsulsel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://datinkessulsel.files.wordpress.com/2010/05/14.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">14</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
