Bumil Risti di Sulsel th 2007

new-picture-8Bumil Risti adalah singkatan dari Ibu Hamil Resiko Tinggi yang digunakan pada pelaporan kesehatan. Sedangkan Resiko Tinggi pada ibu hamil dalam kesehatan terdiri dari empat kategori, yaitu dikenal dengan istilah 4 Terlalu atau cukup 4T saja. Apa saja itu?

  1. Terlalu banyak
    Memiliki anak lebih dari 3 masuk dalam katagori ini.
  2. Terlalu muda
    Ibu hamil berusia di bawah 18 tahun masuk katagori berisiko tinggi.
  3. Terlalu tua
    Walaupun teknologi kedokteran sudah sedemikian majunya, tetapi melahirkan di usia lebih dari 35 tahun tetap memilki risiko.
  4. Terlalu dekat
    Kalau ini yang kehamilannya dengan yang sebelumnya berjarak kurang dari dua tahun.

Kasus Bumil Risti di Sulsel dapat dilihat pada peta di atas, Terbanyak kasusny pada Kota Makassar, kemudian Gowa dan Takalar (warna coklat), sedangka terendah di Kab. Bone, menyusul Bantaeng, Luwu Utara, Maros dan Pangkep (warna putih).

Angka Kematian Ibu (AKI) saat melahirkan adalah salah satu indikator penentu derajat kesehatan sebuah negara. Indonesia mengalami sedikit perbaikan dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2002 AKI Indonesia sebesar 307/100.000. Itu artinya terdapat 307 ibu yang meninggal di setiap 100.000 kelahiran bayi yang hidup. Tiga tahun berikutnya, tahun 2005, angkanya menjadi 263/100.000. Ada perubahan. Dan itu artinya membaik. Apakah angka ini sebenarnya cukup baik jika dibanding dengan negara lain? Ups, coba lihat angka AKI negara tetangga kita saja dulu. Thailand saja AKI nya 129/100.000. Yang lebih dekat lagi, Malaysia, AKI nya ternyata 39/100.000. Berani membandingkan dengan Singapura? Tarik nafas dulu. Singapura hanya 6/100.000. Itu pun bagi pemerintah Singapura masih dianggap tinggi. Karena memang logikanya proses persalinan dan kelahiran harusnya bisa berjalan lancar dan kematian bisa dicegah dengan deteksi lebih awal serta pengawasan kehamilan yang optimal. Dari angka ini juga bisa dijadikan cermin bagaimana tingkat kesehatan masyarakat Indonesia. Tentu saja sebagai catatan, Indonesia bukan cuma jakarta, bukan cuma Denpasar, Surabaya, Bandung dan kota-kota besar lain saja, tetapi tentu saja ada daerah-daerah pedalaman di Papua, daerah tidak terjangkau di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan dan lain-lain yang justru luput dari jangkauan informasi dan pelayanan kesehatan memadai, yang akhirnya menyumbang angka AKI menjadi tinggi (Okanegara).

Bagaimana AKI di Sulsel ? Jumlah kematian ibu maternal yang dilaporkan pada tahun 2006 sebesar 101,56 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan pada tahun 2007 menurun menjadi 92,89 per 100.000 kelahiran hidup.

Kurangnya informasi dan minimnya jangkauan pelayanan kesehatan terutama untuk ibu dan ketidakpedulian laki-laki akan kesehatan istrinya yang secara budaya juga mengalami fiksasi turun-temurun menempatkan banyak kejadian kehamilan yang menjadi kehamilan tidak ideal. Kehamilan yang berisiko tinggi mengundang masalah sampai kepada kemungkinan ancaman jiwa ibu saat melahirkan.

Tulisan Okanegara “Memang miris akhirnya mendengar tangis seorang suami yang kehilangan istrinya saat melahirkan. Seorang laki-laki pernah mengungkapkan seperti ini dalam sebuah penelitian depth interview, ” Tak seorang pun pernah memberitahukan hal ini kepada saya sebelumnya. Saya tidak pernah menyangka, bahkan tidak pernah tahu kalau istri saya dapat meninggal karena melahirkan. Saya akan berhati-hati menjaganya kalau tahu risikonya seperti ini.” Memang, ungkapan penyesalan seringkali datang terlambat.

Karena itu mari kita peduli kembali. Peduli kepada keluarga. Program KB semakin sayup dan menghilang, padahal ini sangat penting. Indonesia kemungkinan akan kembali menghadapi ledakan kelahiran bayi (baby boom), partisipasi laki-laki dalam ikut serta di perencanaan kehamilan masih rendah. Kesehatan ibu masih sering dinomor duakan. Pemerintah juga harus bertanggungjawab untuk menjadikannya prioritas. Tanggung jawab laki-laki dalam perencanaan keluarga dan partisipasi dalam pengaturan kehamilan lewat kontrasepsi juga sebuah keharusan kalau ingin angka kematian ibu menjadi turun tajam.

Cegah jangan sampai muncul kasus-kasus Bumil Risti yang baru. Mulai dari lingkungan terdekat saja dulu. Caranya dengan mensosialisasikan 4T kepada masyarakat, mendukung penggunaan kontrasepsi baik untuk laki-laki maupun perempuan, mendorong agar setiap persalinan dilakukan dengan bantuan tenaga kesehatan dan mensosialisasikan pentingnya hidup sehat terutama untuk ibu hamil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: