9 atau 10 ?

Kalau itu adalah hasil ujian, pasti saya memilih 10. Tapi yang itu, maksudnya bukan hasil ujian, melainkan ICD IX atau ICD X ? Hal inilah yang membingungkan para pengelola SIK dan Kepala Seksi Puskesmas Dinkes Kab/Kota di Sulsel pada pertemuan koordinasi pengembangan Sistem Informasi Puskesmas yang diselenggarakan di Kota Pare-Pare tanggal 2-3 Desember 2008.

Bagaimana tidak bingung…….., ketika Kepala Bagian Tata Usaha Dinkes Prov. Sulsel presentasi, Beliau menjelaskan bahwa berdasarkan Kepmenkes No. 50/Menkes/SK/I/1998 tentang pemberlakuan ICD X pada rumah sakit dan puskesmas. “Jadi mulai sekarang, kita sepakat menggunakan ICD X di puskesmas”, kata Kabag TU.

Tetapi……………………

Setelah Kabag TU keluar ruangan, Kepala Seksi Puskesmas Dinkes Prov. Sulsel masuk dan merangkum hasil pertemuan, salah satu diantaranya adalah : “sekarang kita tetap menggunakan ICD IX, nanti Kab/Kota yang mengkoversi ke ICD X, Pusdatin yang menjanjikan software untuk itu”.

Namun sebelum rangkuman tersebut, sempat saya bertanya kepada peserta (sekedar ingin tahu).

Saya : “siapakah diantara bapak dan ibu yang pernah melihat dokumen ICD IX ?” Kasi Puskesmas menjawab : “Ada saya bawa”. Saya : “Yang tebalnya lebih dari 300 halaman?” Kasi puskesmas : Oh bukan, ini………….

Ternyata yang dibawa Kasi Puskesmas itu adalah format LB1 bagian dari SP2TP, itulah yang dianggap ICD IX.

Pertanyaan saya sekarang kepada siapa saja yang membaca tulisan ini : Apakah anda ada yang memiliki dokumen ICD IX ?????? Minta dong !!!!! Sekedar koleksi…… karena saya sudah punya dokumen ICD X.

Di tempat yang terpisah, yaitu pada seminar pengembangan SIKDA Dinkes DI Yogya tanggal 9 Desember 2008, saya bertanya kepada Kepala Pusdatin Depkes RI, “ICD IX atau ICD X yang digunakan di puskesmas ?  Beliau menjawab ” ICD X masih sulit digunakan di puskesmas karena terlalu rinci dan harus melalui pemeriksaan laboartorium. Lagian kalau menggunakan ICD X, berapa puluh ribu puskesmas yang akan dilatih untuk penggunaan ICD X tersebut. Jadi sekarang pakai saja format LB1dari SP2TP itu, tugas kab/kota yang mengkonversi ke ICD X (kata Kapusdatin).

Setujukah anda ?????????? Koq format tidak lengkap mau dikonversi ke dokumen yang sangat lengkap, tetap aja muncul penyakit lain2 yang terbanyak.

Ternyata yang bingung, bukan hanya orang daerah, tetapi orang pusat juga bingung.  Buktinya, yang menyusun/mengeluarkan Kepmenkes tentang penggunaan ICD X adalah pusat, tetapi yang meragukan juga orang pusat.

Jogger : Kepala memang terkadang pusing, kalau tidak mau pusing jangan jadi kepala.

4 Tanggapan

  1. 9 atau 10 ?
    kayaknya jawabannya saat ini masih “atau”.

  2. Untuk memperoleh hasil pengobatan yang terbaik maka perlu diagnosa yang tepat. Dengan demikian perlu menggunakan alat/tools yang tepat yakni ICD-X. Alasannya bagaimana bisa memberi pengobatan yang tepat kalau diagnosa tdk tepat. Utk di puskesmas, sebenarnya ada beberapa penyakit yang bisa didiagnosa langsung, ada diagnosa yang dapat dilakukan dengan menggunakan laboratorium sederhana dan ada juga diagnosa yang butuh alat penunjang yang lebih lagi… sekarang kita kembalikan saja kepada yang berwajib, yang telah menyusun dan menetapkan ICD-X untuk dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat!!!!

  3. Kalau sudah bicara dunia dan akhirat, wah… itu artinya sudah pasrah….
    Mungkin lebih baik dikawinkan saja untuk sementara ( artinya, yang digunakan selama ini, dipenggalkan dari ICD X sebagai sandingannya di samping), sambil menunggu ketegasan pimpinan dari atas ke bawah. Karena ini butuh ketegasan pimpinan saja secara bersama. Karena sebenarnya hanya segelintir saja yang tidak menyetujui penggunaan ICD X, tetapi mereka vokal, jadi beginilah jadinya.

  4. Karena keterlambatan saya mengetahui adanya “SK Menteri Kesehatan RI No: 50/Menkes/SK/I/1998 tentang pemberlakuan Klasifikasi Statistik Internasional mengenai Penyakit Revisi Ke Sepuluh (ICD-10) ” sangat sederhana mungkin pemikiran saya memandang sebuah Regulasi sebagai aturan yang mengikat dan harus di ikuti…..sayangnya sanksi yang belum di buat kalau aturan ini dilanggar …..seperti keraguan yang melanda kita pakai 9 atau 10, tapi berangkali menjadi hal yang lumrah di negara kita bahwa semua aturan yang ada memang hanya isapan jempol semata, alias cuman “MAIN_MAINAN JI”, yang begitu mudahnya kita abaikan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: