Akhirnya ICD X disepakati

Jika memperhatikan SK Menteri Kesehatan RI No.50/Menkes/SK/I/1998 tentang pemberlakuan klassifikasi statistik internasional mengenai penyakit revisi ke 10 pada rumah sakit dan puskesmas di Indonesia, ternyata sudah 10 tahun yang lalu terbitnya keputusan tentang penggunaan ICD X, tetapi kenapa Sulsel tahun 2009 baru ada kesepakatan menggunakan ICD X pada puskesmas ? Terkecuali RS karena sudah lama menggunakan ICD X.

Melewati waktu yang lama

Sejak tahun 2006, Tim Datinkes Sulsel menerapkan suatu aplikasi Sistem Informasi Penyakit (SIP) pada seluruh puskesmas di Sulawesi Selatan. Salah satu in put aplikasi tersebut adalah ICD X. Aplikasi SIP berjalan lancar selama kurang lebih dua tahun, tetapi salah satu penghambatnya adalah karena belum adanya kesepakatan penggunaan ICD X di Sulsel pada waktu itu. Tim datinkes menganjurkan menggunakan ICD X pada seluruh puskesmas, pengelola data puskesmas setuju dan dapat mengeluarkan laporan LB1 versi ICD X. Akan tetapi seksi yang menangani puskesmas lebih cenderung menggunakan format LB1 penggalan ICD IX dengan alasan masih sulit menggunakan ICD X di Puskesmas karena uraiannya terlalu rinci, atau dengan kata lain harus menggunakan laboratorium, sedangkan di Sulsel baru sekitar 50% puskesmas yang memliki laboratorium. Alasan inilah yang selalu dipertahankan oleh kepala seksi yang menangani puskesmas di Dinkes Prov. Sulsel, ganti berganti pejabat. Ternyata pernyataan yang menguatkan alasan ini berasal dari PI Binkesmas dan Kepala Pusdatin Depkes RI.

Awal menuju kesepakatan

Pada tanggal 2 s/d 4 Desember 2008, dilaksanakan pertemuan koordinasi pengembangan SIMPUS di kota Parepare. Pertemuan tersebut diikuti oleh Kepala Seksi yang menangani Puskesmas se Sulsel dan Kepala Seksi yang menangani SIK se Sulsel. Peserta pertemuan pulang dengan kebingungan karena ada dua rekomendasi : Kabag TU Dinkes Prov. Sulsel merekomendasikan pencatatan penyakit di puskesmas menggunakan ICD X, tetapi setelah itu Kasi Puskesmas Dinkes Prov. Sulsel menyimpulkan hasil pertemuan bahwa puskesmas tetap menggunakan format LB 1 versi ICD IX dengan alasan berdasarkan pernyataan PI Binkesmas dan Kapusdatin Depkes RI.

Terjadi kesepakatan

Pada pertemuan pimpinan lingkup Dinkes Prov. Sulsel, Kepala Sub Bagian Program yang membawahi SIK mengangkat permasalahan ini. Yang hadir pada pertemuan ini adalah seluruh eselon IV dan III lingkup Dinkes Prov. Sulsel. Dengan berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI No.50/Menkes/SK/I/1998 tentang pemberlakuan klassifikasi statistik internasional mengenai penyakit revisi ke 10, maka para pimpinan sepakat untuk penggunaan ICD X di seluruh puskesmas di Sulsel. Sulsel walau terlambat, tapi ”mudah-mudahan tidak segera muncul ICD XI” (kata Mas Jojok)

Surat Edaran

Setelah pertemuan tersebut kami dari tim datinkes Sulsel segera mengonsep surat edaran untuk penggunaan ICD X. Selain itu, untuk mengakomodir kemauan dua jalur, kami membuatkan format LB1 versi ICD IX bersanding versi ICDX, seperti pada gambar berikut :

icd

Saat ini, tim datinkes dan seksi puskesmas bekerja sama akan mensosialisasikan kebijakan ini dengan membagikan format LB 1, CD LB 1, dan CD ICD X yang berbahasa Indonesia ke Dinkes Kab/ kota dan seluruh puskesmas se Sulsel. Jadi jika ada penyakit yang ditemukan tapi tidak ada dalam format, maka boleh merujuk ke ICD X yang lengkap. Format ini digunakan untuk memudahkan petugas pencatatan di puskesmas. Dan setelah petugas pencatatan di Puskesmas sudah terbiasa, maka ICD IX good by. Semoga mulai pencatatan penyakit bulan Januari 2009 ini sudah dapat menggunakan format tersebut.

5 Tanggapan

  1. Selamat sudah ada kesepakatan. Semoga daerah lain segera menyusul. Selama ini yang saya temukan memang lebih banyak bermain di level sepakat, belum jalankan. Tidak ada kata terlambat.
    Ada baiknya disediakan link untuk download kode-kode itu supaya daerah dan puskesmas lain juga bisa segera melihat kode ICD 10 seperti apa. Beberapa waktu yang lalu saya ikut satu pertemuan, ada pertanyaan dr narasumber ke peserta, apa ada yg belum lihat kode ICD 10, ternyata masih ada juga…🙂

  2. Kata pepatah: dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan…ok fren? majuki terus

  3. Bener kata Jojok, menyepekati ICD X baru membuka jalan. Setelah itu, dokter dan perawat juga dikenalkan dan dilatih tentang isi ICD X agar kompeten membuat diagnosis sesuai dengan kode tersebut.

  4. Terima kasih kata selamat dari Ms jojok, dan betul yang Pak Anis katakan, kesepakatan itu baru membuka jalan. Tetapi perlu Pak Anis dan Mas Jojok ketahui bahwa yang menghambat penerapan ICD X di Sulsel karena tidak adanya kesepakatan. Sejak tahun 2006 yang lalu, di Sulsel diterapkan Sistem Informasi Penyakit yang menggunakan ICD X. Semoga dengan kesepakatan ini akan memuluskan penerapan ICD X di Sulsel. Amin

  5. Selamat ber ICD-10, mari saling mendukung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: