PERANAN PETUGAS SANITASI

MENURUNKAN ANGKA KEJADIAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI DESA PALLANGGA WILAYAH PUSKESMAS KAMPILI KEC. PALLANGGA KAB.GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Eluruh wilayah indonesia mempeunyai resiko penularan penyakit ini karena nyamuk penularannya adalah Adedes aegepty tersebar luas di seluruh pelosok tanah air. Kasusnya cenderung meningkat dan semakin luas penyebarannya sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Penyakit DBD ditemukan pertama kali di Surabaya dan jakarta pada tahun 1968, kemudian pada tahun 1972/1973 mewabah lagi di Jakarta, Surabaya, Semarang, Padang dan Bali (Suroso,1996). Sejak pertama kali ditemukan jumlahnya menunjukkan peningkatan baik dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadis selalu terjadi kejadian luar biasa (KLB) sertiap tahun.

Di Sulawesi selatan penderita DBD pertama kali di temukan di Makassar pada tahun 1975 dengan jumlah penderita 8 orang, 1 orang meninggal dengan CFR 12,5 % sampai pada tahun 1979 penderita masih terbatas pada kecamatan dan berada diluar pusat kota. Pada tahun 1980 telah menyebar ke pinggiran kota bahkan beberapa daerah tingkat II, seperti kabupaten Maros dan Gowa dan pada tahun 2002 tercatat 24 kabupaten dan kota telah terjangkit, 2.394 penderita dengan kematian 38 orang (CFR=1,59 %).

Di Kabupaten Gowa kasus DBD pada tahun 2003 jumlah daerah endemis sebanyak 4 kecamatan(somba opu, pallangga, bajeng dan bontomarannu). Jumlah kasus sebanyak 338 penderita, meninggal 2 orang dan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dalam wilayah kerja puskesmas Kampili sendiri jumlah penderita DBD tahun 2005 sebanyak 55 orang dan menurun di tahun 2007 menjadi 20 orang. Berikut ini ditampilkan data 5 tahun terakhir penderita DBD di Puskesmas Kampili.

Data Penderita DBD di Puskesmas Kampili 5 tahun  terakhir

No Desa 2005 2006 2007 2008 2009
1 Kampili

10

1

4

2

1

2 Bontoramba

5

1

4

3

1

3 Julupamai

5

1

1

3

4 Julukanaya

2

1

1

2

1

5 Julubori

10

1

1

2

6 Pallangga

10

5

10

1

1

7 Bungaejaya

5

1

1

2

8 Toddotoa

8

1

1

5

1

Total

55

12

20

20

5

Untuk mengatasi masalah DBD ini perlu peningkatan peran aktif petugas sanitasi dengan mengoptimalkan kader jumantik yang telah dibentuk di tingkat desa. Hal ini ditujukan untuk menurunkan kejadian penyakit DBD di desa pallangga. Kegiatan tersebut meliputi :

  1. Upaya penanggulangan penyakit DBD seperti, tindakan kewaspadaan dini, pendidikan epidemiologi, pemeriksaan jentik nyamuk dll.
  2. Pemberantasan dan pencegahan penyakit DBD seperti, pemberantasan sarang nyamuk, Gerakan 3 M, Abatesasi.

Peranan petugas sanitasi sangat penting dengan mengoptimalkan kader jumantik yang ada dalam menurunkan angka kesakitan, angka kejadian di Desa pallangga. Olehnya itu diharapkan pemerintah setempat untuk berperean aktif dalam menggerakkan masyarakat memberantas penyakit inidengan menggalakkan gerakan 3 M dan abatesasi, sementara itu dinas kesehatan dan puskesmas untuk dapat mengoptimalkan penyebaran informasi dan motivasi kepada masyarakat tentang cara hidup sehat (PHBS). Tidak terkecuali perlunya peningkatan kerja sama semua instansi terkait untuk menggerakkan masyarakat sehingga program penanggulangan dan pemberantasan DBD menjadi lebih optimal.

Makalah St. Halimah B.S.St

Disajikan pada seleksi Tenaga Kesehatan Teladan Provinsi Sulawesi selatan 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: