Kepedulian terhadap Unmet Need KB di Prov.Sulawesi Selatan

 by Akmal (BKKBN), Sudarianto (Dinkes), Sukmawati (UMI)
Program kependudukan dan KB dilaksanakan oleh pemerintah dimaksudkan untuk mengatasi masalah kependudukan di Indonesia. Pada mulanya penanganan masalah kependudukan dan KB berangkat dari masalah utama kependudukan antara lain  jumlah penduduk yang besar, pertumbuhan yang cukup tinggi dan penyebaran yang tidak merata.
Program  keluarga berencana di Indonesia telah diakui secara nasional dan internasional sebagai salah satu program yang telah berhasil menurunkan angka fertilitas secara nyata. Hal ini dapat dilihat dari TFR Indonesia hasil survey SDKI 2003 sebesar 2,4 dan menurun menjadi 2,3 tahun 2007 juga berdasarkan hasil survey SDKI 2007.  Namun, program keluarga berencana di Indonesia ini masih tetap menghadapi beberapa masalah penting dalam upaya mempertahankan momentum program yang selama ini telah berhasil dilaksankan.
Salah satu masalah dalam pengelolaan program KB yaitu masih tingginya angka unmet need, menurut data SDKI 2007 masih sebebsar 9.1 persen, dimana diharapkan pada akhir tahun 2014 dapat diturunkan menjadi sebesar 5 persen. Sedangkan untuk Provinsi Sulawesi Selatan masih sangat tinggi yaitu sebesar 13,9 persen.
 Pasangan usia subur yang tidak ingin anak lagi dan ingin menunda kelahiran tetapi tidak menggunakan suatu alat/cara KB modern (unmet need KB) merupakan suatu peluang untuk meningkatkan peserta KB, karena apabila kelompok PUS (Pasangan Usia Subur) tersebut dapat di diberikan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang memadai dan dapat dilayani dengan baik maka mereka itu merupakan calon-calon akseptor KB.
Walaupun tren peserta KB aktif di Provinsi Sulawesi Selatan terus  meningkat namun masih jauh dibawa rata-rata nasional. Hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa pengelolaan program KB di Sulawesi Selatan masih harus ditingkatkan lagi.

Gambar 1. Tren Prevalensi Peserta KB Aktif  menurut Hasil SDKI Provinsi Sulawesi Selatan

Peserta Keluarga Berencana di Provinsi Sulawesi Selatan masih didominasi penggunaan alat  kontrasepsi jangka pendek seperti suntik dan  pil. Sedangkan alat kontrasepsi jangka panjang dengan efektifitas yang tinggi masih kurang, hal ini harus diwaspadai khususnya penggunaan KB tradisional yang efektifitasnya sangat rendah namun prosentase penggunaanya di Sulawesi Selatan cukup tinggi jika dibandingkan dengan penggunaan alat kontrasepsi modern lainnya (kondom, imflan, iud dan mow).

Gambar 2. Distribusi Peserta KB Aktif  menurut Alat Kontrasepsi Hasil SDKI 2007 Provinsi Sulawesi Selatan

 Gambar 3 . Distribusi Peserta KB Aktif  menurut Tingkat Pendidikan Hasil SDKI 2007 Provinsi Sulawesi Selatan

Gambar 4. Distribusi Pengetahuan Alat Kontrasepsi  menurut  Tingkat Pendidikan Hasil SDKI 2007 Provinsi Sulawesi Selatan

Perbaikan kualitas pemakaian kontrasepsi merupakan salah satu tujuan dari program keluarga berencana. Salah satu ukuran dari kualitas pemakaian adalah efektifitas (kelangsungan) pemakaian kontrasepsi yang semakin tinggi. Alasan putus pakai bisa mencakup kegagalan kontrasepsi, ketidak puasan terhadap alat/cara KB, efek samping, dan kekurang-tersediaan alat/cara KB. Tingkat putus pakai yang tinggi, kegagalan alat/cara KB dan pergantian alat/cara KB bisa mengindikasikan bahwa diperlukan perbaikan dalam pemberian konseling tentang pemilihan alat/cara KB, pelayanan lanjutan dan penyediaan pelayanan yang lebih luas.
Menurut  tren hasil SDKI menunjukkan bahwa, persentase PUS yang tidak ingin punya anak dan ingin menunda kehamilannya tetapi tidak menggunakan kontrasepsi atau kelompok unmet need untuk Provinsi Sulawesi Selatan masih sangat  tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional,  Gambar 4. Tren Unmet Need KB Hasil SDKI 2007 Provinsi Sulawesi Selatan

Mengapa pasangan usia subur tidak memakai kontrasepsi, hal ini berkaitan dengan tingkat pengetahuan, akses, kualitas pelayanan dan ketersediaan kontrasepsi. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan suatu pendekatan KIE dan  peningkatan pelayanan operasional. Selanjutnya perlu pendekatan, intervensi secara partispatoris dengan memanfaatkan seluruh jaringan yang ada di lini lapangan. Sehingga diperlukan penanganan unmet need yang lebih terfokus agar pemakaian kontrasepsi dapat meningkat.
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi  pemakaian kontrasepsi antara lain adalah :
•    Kualitas pelayanan yang baik memiliki peranan yang sangat besar dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penerimaan dan kelangsungan pemakaian kontrasepsi
•    Rasa takut terhadap efek samping yang ditimbulkan oleh penggunaan kontrasepsi akan menyebabkan penolakan terhadap pemakaian kontrasepsi
•    Keterbatasan distribusi alat kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat
•    Kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap berbagai macam kontrasepsi dengan kelebihan dan kelemahannya masing-masing
•    Akses masyarakat terhadap pelayanan kontrasepsi

Kebijakan program KB dalam mengendalikan tingkat kelahiran yaitu peningkatan KIE bagi PUS tentang Kesehatan Reproduksi (KR); melindungi peserta KB dari dampak negatif penggunaan alkon;  peningkatan kualitas alkon dan peningkatan pemakaian alkon efektif dan efisien harus terus diupayakan. Disamping itu memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi tidak boleh terlupakan.
Untuk itu alternative kebijakan yang dapat dilakukan untuk menangani masalah tingginya unmet need KB  di Sulawesi Selatan adalah sebagai berikut:
–    Memperkuat KIE dan advokasi
KIE dan Advokasi adalah langkah yang dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang penggunaan berbagai kontrasepsi serta hasil yang diharapkan dari program KB yang pelaksanaanya diperlukan koordinasi lintas sector yang terkait.
–    Refreshing/pelatihan bagi petugas penyuluh lapangan
Refreshing/pelatihan diperlukan untuk menyegarkan kembali metode-metode dan pengetahuan antara lain bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya kepada PUS tentang pentingnya revitalisasi program KB.
–    Rekrutmen penyuluh lapangan
Di Era otonomi sekarang banyak penyuluh lapangan yang punya potensi untuk beralih ke jenjang struktural. Olehnya itu dalam perekrutan penyuluh lapangan diperlukan kebijakan dalam bentuk aturan yang mengikat pada setiap penyuluh lapangan .
–    Mengaktifkan kembali kader-kader KB yang ada dilapangan
Langkah yang dilakukan adalah mengatur kembali mekanisme kerja kader-kader KB di lapangan dengan memberikan insentif yang memadai.
–    Melibatkan Tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat dalam pengelolaan program
Kondisi saat ini khususnya di daerah/ di desa  tokoh agama,masyarakat dan tokoh adat peranannya sudah semakin berkurang terkorelasi dengan semakin berkurangnya juga peranan tenaga penyuluh di desa. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi dalam pelibatan tokoh agama, masyarakat dan tokoh adat untuk mendukung revitalisasi program KB ke depan.
–    Penyediaan sarana yang memadai
Diperlukan informasi yang jelas bagi tenaga penyuluh sebagai ujung tombak keberhasilan program KB. Informasi tersebut dapat berbentuk buku pedoman pelaksanaan tugas.
–    Penyediaan dana operasional lapangan yang memadai
Alokasi dana untuk program-program pemerintah daerah yang bersifat rutin (tunjangan perbaikan) yang tidak terlalu penting perlu dikurangi dan lebih diarahkan pada kegiatan-kegiatan operasional lapangan.
–    Pembinaan dan pengawasan secara berjenjang
Untuk menghindari terjadinya ketimpangan pelaksanaan revitalisasi program KB di daerah (kabupaten/Kota) mulai dari hulu sampai ke hilir, diperlukan pembinaan dan pengawasan yang berjenjang.

Referensi:
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (2007), BPS, BKKBN, Departemen Kesehatan, Macro Internasional Calverton, Maryland USA.

Satu Tanggapan

  1. pak sya minta data angka pengguna kb iud di kabupaten bekasi, cikarang selatan, kecmatan cibarusah dan desa sindang mulya. .
    D’tunggu ya pak. .
    Trima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: